Menjaga Lidah dan Hati

Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Dikisahkan pada suatu hari Luqmanul Hakim diperintahkan majikannya untuk menyembelih seekor kambing dan mengambil dagingnya yang terbaik untuk jamuan tamu yang diundangnya. Luqmanul Hakim kemudian membeli seekor kambing kemudian menyembelihnya dan mengambil lidah dan hatinya untuk dimasak dan ia buang selebihnya kemudian disajikan kepada majikan dan para tamunya.

Melihat hal itu majikannya marah dan menegurnya. ”Wahai Luqman, bukankah tadi aku perintahkan kepadamu untuk mengambil daging yang terbaik untuk jamuan para tamuku?"

Luqman pun menjawab,”Wahai majikanku, tidak ada daging yang terbaik dari makhluk, kecuali lidah dan hatinya."

Besok hari, majikannya memerintahkan kepadanya untuk menyembelih kambing kembali dan menyuruhnya membuang daging yang paling buruk. Luqman pun pergi ke pasar untuk membeli kambing dan menyembelihnya, kemudian ia buang lidah dan hatinya dan ia masak selebihnya.

Melihat ulah Luqman tersebut sang majikan pun kesal lalu berkata,”Apa maksudmu wahai Luqman? Kemarin aku perintahkan untuk menyembelih kambing dan menghidangkan daging yang terbaik dan engkau hanya menyuguhkan hati dan lidah saja. Sekarang, ketika aku menyuruh engkau untuk menyembelih kambing lagi dan memerintahkan kepadamu agar membuang daging yang terburuk lalu yang engkau buang adalah lidah dan hatinya. Apakah kamu bermaksud mempermainkan aku?”

”Maafkan hamba tuanku, akan tetapi apa yang hamba lakukan itu memang sudah sepatutnya, karena Islam mengajarkan bahwa tidak ada daging yang terbaik kecuali lidah dan hati apabila digunakan untuk kebaikan dan sebaliknya tidak ada daging terburuk kecuali lidah dan hati kalau dibuat untuk keburukan,” jawab Luqman.

Kisah sufi di atas bisa kita jadikan pedoman akan pentingnya menjaga hati dan lidah, karena keduanya merupakan bagian penting yang akan menentukan baik-buruknya orang tersebut. Hal tersebut cukup untuk membuat kita berpikir tentang apa yang kita katakan dan apa yang ada dalam hati kita.

Allah mengetahui semua yang dipikirkan dan semua rahasia hati, termasuk pikiran alam bawah sadar yang mereka sendiri tidak mengetahuinya. Allah mencatat fakta ini pada beberapa ayat dalam Alquran, seperti,"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghaabun: 4)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui” (al-Mulk: 13-14)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. Lidah dalam konteks hari ini tidak selalu bermakna ucapan, melainkan tulisan kita di media sosial juga bagian dari menjaga lidah. Hari ini kita lihat bagaimana orang menulis di media sosial tanpa pikir dan pertimbangan. Cacian dan hujatan seperti tidak terperiksa.

Allah mengatakan,“Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar.” (QS Al-Ahzab:70)

Sementara itu, Rasulullah SAW bersabda,“Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari-Muslim)

Puasa membantu untuk melatih menjaga hati dan lidah kita. Puasa bermakna menahan dan menahan lidah serta hati adalah satu hal yang juga diutamakan. Dengan puasa, hati kita dilatih untuk tidak berprasangka buruk, iri hati, dan seluruh penyakit hati lainnya.

Lidah kita juga dilatih untuk tidak bicara yang buruk atau yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya. Nabi Muhammad SAW mengatakan,“Ramadan datang dan Ramadan pergi, namun masih ada dosa seseorang yang belum diampuni oleh Allah.” Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut.

 

*Staf Pengajar Universitas Paramadina Jakarta

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/jalan-pulang/552939/menjaga-lidah-dan-hati 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed