Pakar Ekonomi: GDP Indonesia Diprediksi 6-7%

[Jakarta 3 Juni 2010] Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai dua digit? Boleh jadi. Itu mungkin saja kita raih kalau saja kebijakan publik di negeri ini diperbaiki.

Itulah di antara gagasan yang muncul dalam workshop ekonomi yang berlangsung di kampus Paramadina Graduate Schools,Gedung The Energy, SCBD, Jakarta, Kamis (3 Juni) lalu.

 

Tidak kurang dari 80 peserta workshop membincangkan pelbagai masalah ekonomi Indonesia bersama para pakar dari Paramadina Public Policy Institute (PPPI), ISEI, INDEF, dan Oxford Economics, sebuah think-tank yang merupakan afiliasi dari Oxford University, Inggris. Di antara peserta diskusi tampak Didik Rachbini, Avilliani dan Christianto Wibisono.

Sebelum workshop di kampus pascasarjana Universitas Paramadina itu, PPPI dan Oxford Economics menandatangani nota kesepakatan (MOU) kerjasama guna menyusun berbagai rekomendasi kebijakan publik bagi pemerintah Indonesia, serta melakukan berbagai riset bersama dan pertukaran ahli (expert).

Managing Director Paramadina Public Policy Institute Wijayanto  menyatakan PPPI kuat dalam konteks domestik akan bersinergi dengan Oxford yang mumpunidalam ekspertise di bidang ekonomi global. “Kita harapkan kombinasi keduanya mampu memberikan berbagai rekomendasi kebijakan yang tidak saja berorientasi domestik tetapi juga global,” kata Wijayanto.

Dalam sambutannya Wijayanto menyampaikan bahwa tantangan utama berbagai negara berkembang termasuk Indonesia adalah bagaimana menyusun kebijakan publik yang mampu mengoptimalkan potensi bangsa. “Terlepas dari berbagai disharmoni kebijakan publik yang ada, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5-6% pertahun. Ketika aspek kebijakan serta implementasinya diperbaiki, pertumbuhan mendekati dua digit bukanlah hal yang mustahil, ” kata Wijayanto. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable), mengingat peran komoditi yang berasal dari sumber daya alam (natural resources based commodity) yang cukup dominan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir.

CEO Oxford Economics, Adrian Cooper, dalam kuliahnya menyampaikan bahwa kerjasama ini akan mendatangkan manfaat optimal bagi banyak pihak, apalagi Paramadina dipandang sebagai partner yang tepat. “Indonesia merupakan fenomena yang menarik bagi berbagai kalangan di dunia, terutama investor; sehingga kami ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia dan mengangkat berbagai potensi serta success story yang ada,” kata Adrian.

Menurut Adrian, pihak Oxford Economics optimis terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. GDP Indonesia diprediksi akan tumbuh sekitar 6% pada tahun 2010, lalu meningkat mencapai sekitar 7% pada tahun-tahun berikutnya. “Di tengah melambatnya ekonomi berbagai negara lain, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat sangat mengesankan,” tambah Adrian.

Lebih jauh Adrian menyatakan bahwa kendatipun Eropa saat ini sedang mengalami kendala yang cukup serius, ia meyakini bahwa kondisi terburuk sebenarnya sudah lewat dan recovery sedang terjadi. “Krisis Yunani hanya akan memperlambat proses recovery yang saat ini sedang berlangsung di kawasan Eropa,” katanya,” Dan BagiPakar Indonesia krisis Yunani tersebut tidak akan terlalu berpengaruh, hal ini terutama diakibatkan begitu kuatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia.”

Kendati begitu, menurut Oxford Economics, pertumbuhan ekonomi negara-negara maju hingga tahun 2011 belum akan melampaui pertumbuhan sebelum krisis ekonomi 2008. ”Risiko ke depan bagi negara-negara maju memang masih cukup tinggi, tetapi dalam enam bulan mendatang kita akan melihat kondisi perekonomian yang lebih stabil” tambah Adrian.

Paralel dengan Adrian, ekonom senior Bank Dunia yang memimpin jalannya diskusi Sjamsu Rahardja, menyatakan bahwa, pasca krisis finansial global dan di tengah ancaman ketidakstabilan perekonomian dunia akibat krisis fiskal di Eropa, sesungguhnya perekonomian Indonesia terus menunjukkan tren penguatan yang solid. ”Namun perbaikan iklim investasi, pembangunan infrastruktur, dan reformasi institusi harus dipercepat untuk mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, “ kata Sjamsu. Kerjasama Paramadina Public Policy Institute dengan lembaga sekaliber Oxford Economics akan memperkaya wawasan kita dalam menganalisa kebijakan publik, ”tambah Sjamsu yang juga dosen program pasca sarjana Paramadina dan co-founder Paramadina Public Policy Institute.

Kerjasama PPPI dan Oxford Economics kemungkinan akan dikembangkan pada level Universitas. Akan sangat ideal bagi Paramadina, bisa bekerjasama dengan Oxford University,” kata Wijayanto yang juga Deputi Rektor bidang Kerjasama, Pengembangan Bisnis dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina. Oxford merupakan salah satu universitas tertua di dunia yang didirikan pada abad ke-11 dan telah melahirkan banyak peraih Nobel di berbagai bidang. Dalam berbagai program yang akan dilaksanakan, PPPI berencana menggandeng berbagai institusi di Indonesia, termasuk ISEI dan INDEF.

 

Paramadina Public Policy Institute (PPPI) merupakan think-tank yang independen di bawah Universitas Paramadina (http://policy.paramadina.ac.id); Lembaga ini didirikan guna memberikan sumbangan dalam menyelesaikan masalah-masalah kebijakan publik (public policy) seperti mendorong tata laksana pemerintahan yang efektif dan transparan. PPPI memposisikan diri sebagai ”fountain of idea” bagi Indonesia. Melalui peningkatan kualitas kebijakan publik, PPPI medorong Indonesia untuk merealisasikan potensinya. Di antara program PPPI adalah riset dan survei, publikasi, rekomendasi kebijakan publik, dan menyelenggarakan pelatihan dan diskursus berkaitan dengan publik.

Oxford Economics (www.oxfordeconomics.comadalahsalah satu think-thank riset dan forecasting di bidang ekonomi paling terkemuka di dunia yang melakukan berbagai advisory dan riset bagi perusahaan Pakardan pemerintahan di dunia. Mengandalkan teknik-teknik kuantitatif terbaru, model-model teruji, data dan hasil riset ekonomi mutakhir dunia, dalam proses analisa yang dikelola 70-an ahli ekonomi dan analis industri, Oxford Economics memberikan masukan dan prakiraan (forecasting) yang mumpuni dalam mengidentifikasi perubahan ekonomi, bisnis dan politik di dunia.

###

Contact Person: Syafiq Basri Assegaff; Direktur Marketing & Humas, Universitas Paramadina; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.;

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
The Energy 22nd Floor., SCBD Lot. 11A
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 
T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://gradschool.paramadina.ac.id

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed