b-hi.jpg
Profil Prodi HI Studi Hubungan Internasional (HI) adalah
kur_hi.jpg
Kurikulum dan Metode Perkuliahan Prodi HI menerapkan kurikulum
tim-hi.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: Ahmad Khoirul

University Scholars Leadership Symposium (Hongkong, August 1 to 7, 2015)

  • PDF

Warm greetings !

Humanitarian Affairs UK, cordially invite 7 Promising Student Leaders from Paramadina University in Indonesia to attend the 6th University Scholars Leadership Symposium to be held in Hong Kong, from August 1 to 7, 2015.

The Symposium aims to draw the attention of young people around the world, to take a proactive action and contribute to the achievement of a sustainable future, aligning with the Millennium Development Goals. It aims to provide Young Leaders with a sense of self confidence and leadership; strengths which are crucial in today’s global workforce.

UNESCO, Assistant Director-General for Education, Dr. Qian Tang, Prime Minister of Malaysia Dato' Sri Najib and H.E.Samdech Hun Sen, the Prime Minister of the Kingdom of Cambodia are among some of the public figures who have rendered their support for the Symposium.

Enrich, Educate, Enlighten - the theme of the Hong Kong Symposium 2015 - will include training sessions on personal development, communication and professional performance by world renowned speakers, all of whom have applied their skills and knowledge in the humanitarian field. The USLS will bring together 1,000 Young Leaders from over 45 countries, providing opportunities for networking, while expanding intellectual and cultural horizons.

Humanitarian Affairs believes in the holistic development of global-minded and forward thinking leaders. Encountering different cultures and providing aid to those suffering facilitates both intellectual and emotional development. Most importantly, this process helps to bring education, relief and warmth to communities in need.

Here is the online brochure : 6th USLS Brochure .Alternatively, you can visit the United Nations, Office for the Co-ordination of Humanitarian Affairs website at : UN-OCHA for information.

http://issuu.com/humanitarianaffairs/docs/6th_usls_brochure? utm_source=conversion_success&utm_campaign=Transactional&utm_medium=email

LAST_UPDATED2

Kuliah Tamu Prodi HI Guerilla Diplomacy: Rethinking the Worlds Second Oldest Profession Prof. Daryl Copeland Rabu 27 November 2013

  • PDF

 

 

Sumber Foto: http://www.guerrilladiplomacy.com/

Kedutaan Besar Kanada untuk Republik Indonesia pada November 2013, menerima tamu kehormatan dari University of Ottawa’s Graduate School of Public and International Affairs Kanada. Prof. Daryl Copeland merupakan pengamat senior pada Institut Pertahanan dan Hubungan Internasional Kanada, beliau merupakan seorang analis, pendidik dan konsultan dengan spesialisasi hubungan sains, teknologi, diplomasi dan kebijakan internasional, dan banyak menghasilkan berbagai tulisan pada jurnal internasional. Salah satu karyanya yang perlu untuk di apresiasi adalah sebuah buku mengenai diplomasi yaitu Guerilla Diplomacy : Rethinking International Relations. Dalam kesempatan kunjungannya di Indonesia, Profesor Daryl Coplend mengunjungi Universitas Paramadina, khususnya Program Studi Hubungan Internasional dan memberikan kuliah singkat mengenai diplomasi dan kasus-kasu internasional yang pernah beliau tangani saat masih menjaba sebagai diplomat senior Kanada, kepada mahasiswa Hubungan Internasional.

Dalam perkuliahan tersebut Professor Daryl Copeland memberikan perkuliahan mengenai bagaimana diplomasi dilakukan dalam ranah diplomasi. Bahwa diplomasi tidak hanya cukup dilaksanakan dalam suatu skema G to G, namun harus meluas kepada banyak bidang. Dalam kesempatan itu juga diplomasi tidak cukup dilaksanakan dalam perundingan di atas meja, dalam forum atau pada suatu perjamuan, hal yang paling penting dalam melaksanakan diplomasi, menurutnya, adalah terletak pada kegigihan seorang diplomat dalam memperjuangkan kepentingan negaranya dalam segala bidang.

 

LAST_UPDATED2

Focus Group Discussion Program Studi Hubungan Internasional & Komisi untuk Orang Hilang dan Tindakan Kekerasan (Kontras) 17 Maret 2014

  • PDF

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Program Studi Hubungan Internasional bersama dengan Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan bersama dengan KONTRAS. Kegiatan yang diadakan terkait dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM) pada lingkungan global. FGD yang dilakukan menyoroti perkembangan mengenai hukuman mati yang dijatuhkan oleh negara terhadap pelaku tindak kejahatan. Pelaksanaan Hukuman Mati yang di praktekkan di beberapa negara utamanya negara-negara yang menganut demokrasi menjadi perhatian masyarakat internasional, dalam hal ini posisi Pemerintah Indonesia dalam isu ini pun menjadi perhatian. Masyarakat Internasional prihatin terhadap praktik hukuman mati yang masih dijalankan oleh banyak negara dan tidak sesuai terhadap pengakuan terhadap Deklarasi Hak Asasi Manusia (Human Rights Declaration). Oleh karena itu KONTRAS selaku organisasi dalam masyarakat yang bergerak dalam ranah HAM di Indonesia mencoba untuk melihat kembali posisi Indonesia terhadap penegakan HAM di ranah Internasional. HAM dalam ilmu Hubungan Internasional dilihat sebagai salah satu isu global yang penting dalam penegakan demokrasi pada bidang studi perdamaian, HAM dipandang sebagai salah satu hal yang wajib ditegakkan demi mendukung tercapainya perdamaian bahkan dalam kondisi Perang sekalipun.

Adapun tujuan kegiatan yang di adakan adalah

  1. Menganalisis dan meneliti posisi Indonesia dalam menyikapi tren HAM global menghapus hukuman mati
  2. Melakukan evaluasi terhadap kebijakan Indonesia dalam isu HAM Internasional, khususnya dalam penghapusan hukuman mati
  3. Membuat riset mengenai posisi Indonesia dalam menyikapi tren HAM global menghapus hukuman mati

Hasil riset dijadikan sebagai bahan advokasi untuk kebijakan luar negeri Indonesia dalam isu HAM

Adapun Pembicara pada kesempatan tersebut adalah Bapak HAriz Azhar (Koordinator KONTRAS) dan Al Araf (IMPARSIAL).

 

 

LAST_UPDATED2

General Lecture with UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugee)

  • PDF

General Lecture with UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugee)

Tuesday, November 19, 2013

International Relations Department of Paramadina University was in cooperation with UNHCR held a General Lecture. The General Lecture was presented by Ms. Ayu Fitrisiana an Indonesian UNHCR staff. The topic was about International Refugee Law and UNHCR’s Mandate. For centuries, people have been fleeing their place of origin as the result of prosecution, conflicts, or generalized violence that threatens their lives, safety or freedom. They flee to find asylum and to find safe place to go. United Nations High Commissioner for Refugee was established in 14 December 1950 which its mandate is to run a UN refugee Agency to lead and coordinate international actions to protect refugees. As written in the Universal Declaration of Human Rights in Article 14 about the right to seek and enjoy asylum from persecution that has been repeatedly re-affirmed through resolutions of the United Nations General Assembly.

Asylum serves the dual purpose of providing a predictable and structured framework for the international protection of persons whose safety is at considerably at risk, while ensuring, at the same time, that appropriated and lasting solutions can be implemented.

The General lecture is designed to enhance the knowledge of the students about the right of refugees to seek asylum from International Refugee Law perspective and UNHCR’s mandate. UNHCR expected to be able to raise awareness from the students on the asylum issue in Indonesia and also to ensure that UNHCR and its expertise is deemed relevant and useful to the Indonesian citizens. The activity that UNHCR held was in line with the intentions of Indonesian Government to accede the 1951 Convention and its Protocol 1967 relating to the status of Refugees.

 

LAST_UPDATED2

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL