Pada tanggal 6 Agustus 2019 Universitas Paramadina dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Psikologi Indonesia telah melakukan penandatangan kerjasama antar lembaga. Penandatangan kerjasama sendiri dilakukan oleh Rektor Universitas Paramadina yaitu Prof. Firmanzah, PhD dan Direktur LSP Psikologi Indonesia yaitu Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog. Kerjasama yang dibangun ini tidak terlepas dari keberadaan program studi psikologi Universitas Paramadina yang melakukan inisiasi awal kerjasama. Lembaga Sertifikasi Profesi Psikologi Indonesia merupakan lembaga di bawah naungan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang nantinya akan mensertifikasi kompetensi yang terkait dengan bidang kerja profesi psikologi dan telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Keberadaan kerjasama ini nantinya menjadikan Universitas Paramadina sebagai salah satu Tempat Ujian Kompetensi Mandiri (TUK Mandiri) di wilayah Jakarta. Untuk saat ini di wilayah Jakarta sendiri hanya ada Universitas Indonesia dan Universitas Paramadina yang ditetapkan sebagai tempat Ujian Kompetensi Mandiri di wilayah Jakarta dan sekitarnya. TUK Mandiri sendiri merupakan Tempat Uji Kompetensi bukan di tempat kerja yang bermitra dengan LSP untuk digunakan sebagai tempat uji kompetensi  secara berkelanjutan, Kemitraan tersebut utamanya mencakup kesediaan untuk memelihara peralatan teknis dan kondisi uji di TUK terhadap persyaratan yang ditetapkan. Disamping itu TUK mandiri dapat membantu mempromosikan dan memasarkan kegiatan sertifikasi kompetensi dari LSP.

Kerjasama dengan LSP Psikologi Indonesia ini sendiri memberikan manfaat yang baik khususnya untuk para mahasiswa psikologi Universitas Paramadina. Upaya untuk bisa menguatkan kompetensi lulusan yang sesuai dengan tuntuan pasar menjadi lebih baik dengan adanya lembaga sertifikasi psikologi saat ini. Melalui unit LPPM Universitas nantinya juga dapat menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan skema sertifikasi kompetensi yang sudah ada saat ini di LSP Psikologi Indonesia.

 

Perkembangan komunikasi digital saat ini sangat mencengangkan, awalnya media sosial diciptakan hanya untuk alat komunikasi personal sekarang memiliki banyak fungsi dan juga digunakan oleh institusi atau organisasi sebagai media komunikasi kepada masyarakat umum. Dengan kata lain media sosial juga menjadi ujung tombak pemasaran atau marketing dari individu maupun organisasi. Mengingat pentingnya peran media sosial tersebut diperlukan adanya suatu kemampuan khusus atau skill agar seseorang dapat memanfaatkan media sosial secara maksimal. Manajemen media sosial merupakan cara untuk mengatur, mengelola dan mengendalikan media sosial personal/organisasi agar secara efektif dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Organisasi umumnya memanfaatkan media sosial tidak hanya untuk ajang promosi saja, namun juga sebagai sarana untuk mengenali pasar dan konsumen. Universitas Paramadina khususnya program studi psikologi sebagai suatu institusi sudah seharusnya memanfaatkan media sosial sebagai alat bantu komunikasi dengan masyarakat serta sebagai penunjang promosi dan pemasaran. Untuk itu diperlukan suatu pelatihan singkat atau workshop yang ditujukan kepada mahasiswa sebagai pengelola beberapa media sosial dan staff mengenai manajamen media sosial. Diharapkan dengan mengikuti workshop peserta memiliki skill terkait pengetahuan dasar tentang media sosial, editorial planning dan penggunaan tools yang mempermudah pengelolaan media sosial.

 

Program studi Psikologi Paramadina mengundang para mahasiswa prodi psikologi untuk mengikuti workshop yang akan diselenggarakan pada:

 

Jumat, 23 Agustus 2019

 

Pukul 10.00-15.00 WIB

Tempat :

Ruang Granada, Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Mampang Prapatan, Jakarta

 

Narasumber: Ghaisani Azizi Nurul Rizki (Digital Promotion Coordinator – Institute Francais Jakarta Indonesia)


Konfirmasi kehadiran & Info:

Dwita Priyanti, M.Psi, Psikolog

WA: 082168721318

 

KESEMPATAN MAGANG BUAT KAMU DI TIM MEDSOS PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

 

Kesejahteraan psikologis merupakan suatu konstruk multifaset (Kahneman & Krueger, 2006; dalam Mpofu, Sefotho, dan Maree; 2017). Mpofu, Sefotho, dan Maree (2017) merangkum bahwa terdapat lima aspek utama dalam kesejahteraan psikologi yaitu kemandirian dan pilihan (autonomy and choice), tujuan hidup, hubungan yang baik dengan orang lain, pertumbuhan diri, dan penerimaan diri. Individu yang sejahtera psikologis dapat menghadapi kesulitan dengan lebih baik, dan berpotensi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai, memiliki kesehatan yang lebih baik, dapat menjalin relasi yang sehat dengan orang lain, dan lebih sehat secara psikologis.

Hasil studi eksploratoris di Zimbabwe menunjukkan remaja dengan disabilitas fisik yang tinggal dalam komunitas inklusif menunjukkan hasil yang baik pada aspek-aspek dari kesejahteraan psikologis yaitu: kemandirian dan pilihan (autonomy and choice), tujuan hidup, hubungan yang baik dengan orang lain, pertumbuhan diri yang baik, dan penerimaan diri (Mpofu, Sefotho, dan Maree; 2017).  Studi ini menunjukkan bahwa situasi yang bersifat inklusif mendukung kesejahteraan psikologis individu berkebutuhan khusus.

Salah satu situasi inklusif yang dapat diakses oleh individu berkebutuhan khusus adalah sekolah inklusif. Sekolah inklusif merupakan suatu bentuk sistem pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan  dari siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah umum, yang mayoritas siswanya adalah siswa reguler. Hasil dari studi yang dilakukan oleh Gaydarov (2014) dalam bentuk meta-analisis dan analisis konten dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial yang mendukung, penting bagi pengembangan pribadi siswa berkebutuhan khusus harus dibuat dan pendidikan inklusif merupakan salah satu bentuk dari lingkungan sosial tersebut.

Salah satu kelompok siswa berkebutuhan khusus adalah siswa dengan tunarungu. Siswa dengan tunarungu merupakan siswa dengan gangguan pendengaran yang sedemikian rupa sehingga menghambat mereka untuk mengikuti pendidikan di sekolah dan membutuhkan metode pengajaran dan pendidikan tertentu agar kemampuan mereka dapat dikembangkan secara optimal. Gangguan pendengaran yang dialami oleh siswa dengan tunarungu pun kemudian mengalami hambatan dalam berkomunikasi yang berdampak pula pada interaksi sosial mereka. Dengan semakin banyaknya sekolah yang menyebut diri sebagai sekolah inklusif, maka perlu untuk dibuat pemahaman bagaimana mempersiapkan suatu pendidikan inklusif yang dapat mendorong dan memperkuat kesejahteraan psikologis siswa, khususnya pada siswa dengan tunarungu.

Melihat fenomena tersebut maka program studi psikologi Universitas Paramadina melaksanakan kuliah umum yang telah diselenggarakan pada hari Kamis, 9 Mei 2019 dengan narasumber utama yaitu ibu Eka Kurnai Hikmat, M.Spec.Ed yang merupakan seorang Program Manager pada Yayasan Rumah Siput Indonesia, Hearing (Re)habilitation and Training Center. Kuliah umum ini diawali dengan membangun empati para peserta dengan menanyakan apa yang bisa dilakukan agar bila ada peserta dengan tuna rungu/tuli mereka bisa mengikuti kuliah umum ini. Akhirnya tercetus ide dari peserta bahwa mereka bisa mengikut kuliah umum melalui tulisan. Dengan demikian, dalam kuliah umum ini, ada relawan untuk membuat transkrip dari apa yang disampaikan oleh pembicara.

Paparan yang disampaikan dalam kuliah umum ini antara lain adalah:

  1. Cara identifikasi kemampuan pendengaran siswa
  2. Bagaimana menyebut siswa tuli/tuna rungu? Tuna rungu atau tuli? Ini akan tergantung pada keinginan masing-masing pribadi, dan kita menyesuaikan dengan keinginan individu
  3. Bagaimana cara mengidentifikasi siswa tuli/tuna rungu
  4. Bagaimana Program Pendidikan bagi siswa tuli/tuna rungu
  5. Bagaimana sebaiknya pendidikan yang inklusif bagi siswa tuli/tuna tungu

 

Psikoterapi adalah sebuah treatmen terhadap gangguan-gangguan jiwa yang mencakup kognisi, afeksi, dan gangguan penyesuaian perilaku (behavioral) melalui penggunaan teknik-teknik psikologis, bukan melalui treatmen yang bersifat fisik maupun biologis (Thackery dan Harris, 2003). Konseling sendiri merupakan istilah lain yang seringkali digunakan untuk menunjuk pada maksud dan tujuan yang sama dengan psikoterapi. Namun para pakar ilmu psikologi memiliki perbedaan pandangan. Sebagian menganggap bahwa konseling dan psikoterapi adalah dua hal yang berbeda, sehingga munculah penjelasan mengenai perbedaan psikoterapi dan konseling yang dimaksud.

Sedangkan jika mengacu pada terminologi sufisme, pengertian psikoterapi sufi dalam hal ini adalah metode penyucian diri (Tazkiya al-Nafs) yang dikembangkan oleh para sufi untuk membantu para murid dalam mengembangkan kemampuan spiritualitasnya (searching for meaningful life), atau mengatasi penyakit hati (amra>d al-qulu>b) serta gangguan kejiwaan (Asqa>m al-nufus) yang dialaminya (recovery from illness), yang mencakup aspek; ilmu (knowledge), Ha>l (state), Amal) dan spiritual (Ruh), dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Adapun tujuan utama psikoterapi sufi dalam hal ini adalah untuk mengembalikan atau mendekatkan manusia kepada realitas yang sejati (Tuhan) sebagaimana asalnya.

Tujuan pemberdayaan inilah yang menurut Deikman tidak mampu dijangkau oleh psikoterapi modern. Deikman menambahkan bahwa psikoterapi sufi menawarkan sebuah perspektif yang jauh lebih luas. Oleh karenanya, untuk dapat merumuskan dan membuat rancangan terapi agar lebih komprehensif, diperlukan adanya pemahaman yang mendalam terkait dengan sistematika teoritik ilham therapy Al-Ghazali yang didalamnya juga memuat penjelasan mengenai tipologi kepribadian, konsep abnormalitas manusia yang mengarah pada klasifikasi gangguan kejiwaan secara klinis maupun dalam perspektif psikologi sufi, hingga pada tujuan psikoterapi Al-Ghazali.

Dalam upayanya untuk mengembangkan psikoterapi Islam yang berbasis pada konsep yang sudah dikembangkan oleh Al-Ghazali maka program studi psikologi dalam hal ini telah melaksanakan kegiatan berupa diskusi yang berkelanjutan. Untuk kegiatan yang sudah dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2019 ini merupakan kegiatan diskusi kedua yang mempelajari lebih mendalam terkait dengan sistematika teoritik therapy yang sudah dikembangkan Al Ghazali. Kegiatan diskusi ini akan berlanjut hingga nantinya akan melakukan uji coba terapi yang sudah dikembangkan oleh Al Ghazali dalam upayanya mengenalkan kembali serta mengembangkan psikoterapi Islam sebagai salah satu pilihan yang bisa dilakukan berdampingan dengan terapi-terapi mainstream psikologi yang sudah ada.

Program studi Psikologi Paramadina mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk hadir pada Diskusi Lanjutan Pengembangan Psikoterapi Islam: SistematikaTeoritik Ilham Therapy (Ilmu, Hal & Amal) Al Ghazali yang akan diselenggarakan pada:

Kamis, 23 Mei 2019
Pukul 13.00-15.00 WIB

Tempat :

Ruang Granada, Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Mampang Prapatan, Jakarta


Konfirmasi kehadiran & Info:

Email ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Telepon: 021-79181188 ext.225
WA: 0852 2035 7108

Subcategories

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed