fbpx

Jangkar Kehidupan

Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan Abi Hurairah yang dipercaya sebagai penjaga baitulmal diminta oleh Nabi berjaga-jaga karena sebentar malam kemungkinan ada maling yang akan mencuri harta di baitulmal. Seusai tengah malam, Abu Hurairah memergoki seorang pemuda tanggung mengendap-endap ingin mencuri harta kekayaan di baitulmal. Akhirnya Abu Hurairah menangkap basah maling itu.

 

Sebelum diserahkan kepada Nabi, pencuri itu membujuk Abu Hurairah dengan mengiba-iba. Ia betul-betul terpaksa melakukan usaha pencurian itu karena kepepet. Ia kehabisan akal setelah perbekalan hidup keluarganya betul-betul habis. Ia meyakinkan Abu Hurairah bahwa yang ia akan ambil ialah gandum yang bisa menghidupi keluarganya hari itu.

Akhirnya Abu Hurairah melepaskannya dengan catatan ia tidak akan pernah mengulangi perbuatan buruk itu. Setelah salat Subuh, Nabi menanyakan kepada Abu Hurairah perihal pencuri di baitulmal. Ia menceritakan bahwa pencuri itu memang ada, tetapi dilepaskan karena pencuri itu melakukan perbuatannya karena betul-betul terpaksa. Nabi menyayangkan Abu Hurairah yang melepaskan pencuri itu, tetapu kemudian Nabi mengingatkan bahwa sebentar malam akan ada lagi pencuri yang akan beroperasi baitulmal.

Setelah malam semakin larut, ternyata ditangkap basah lagi seseorang yang ternyata pemuda yang juga datang kemarin malam. Kali ini si pemuda itu mengiba-iba untuk dilepaskan karena keluarganya sudah tidak bisa makan lagi hari ini. Kalau ia ditangkap lalu ditahan, maka keluarganya akan mengalami masalah. Akhirnya pencuri itu dilepas dengan janji yang sama tidak akan mengulangi perbuatannya.

Seusai salat Subuh, Nabi menanyai Abu Hurairah perihal pencurian semalam. Ia menjawab pencuri itu memang datang lagi dengan sangat terpaksa dilepas karena pertimbangan keluarga yang sedang dalam kondisi darurat. Nabi pun berpesan nanti malam berjaga-jaga lagi karena akan ada lagi maling yang datang.

Lepas tengah malam betul-betul ada lagi maling. Abu Hurairah kembali menangkap basah pencuri itu dan alangkah kagetnya, ternyata pencuri itu juga yang datang malam lalu. Abu Hurairah kali ini tidak memberi ampun pencuri itu. Kedua tangannya diborgol untuk diserahkan kepada Nabi untuk diadili.

Sebelum diserahkan kepada Nabi, pencuri itu berpesan kepada Abu Hurairah. "Hai Abu Hurairah saya memohon maaf aku telah merepotkan engkau karena keadaanku. Kali ini saya pasrah diadili oleh Nabi. Namun sebelumnya izinkan saya menyampaikan sesuatu kepadamu sebagai ungkapan terima kasih saya atas segala kebaikanmu telah melepaskan saya dua malam berturut-turut. Saya akan mengajarimu suatu amalan. Jika engkau mengamalkan amalan ini pasti engkau tidak akan diganggu oleh iblis atau setan. Bahkan jika engkau membacanya, iblis akan lari terbirit-birit sampai ke ujung langit ketakutan dan tentu tidak akan mengganggu engkau lagi," katanya.

Abi Hurairah penasaran dan bertanya apa amalan itu. Pencuri itu mengajarinya dengan membaca ayat kursi (QS al Baqarah/2:255) sampai terakhir.

Abu Hurairah seolah-olah sadar kalau pencuri ini bukan pencuri biasa. Mungkin ini malaikat yang menyamar sebagai fakir miskin. Apalagi ia menyampaikan keinginannya untuk mencuri hanya sebatas yang akan dimakan satu hari bersama keluarganya dan dibuktikan kecilnya kantong yang dibawa. Abu Hurairah sesungguhnya bisa memberikan sedikit gandum dari baitulmal, tetapi sayang ia tidak mendapat mandat untuk membagi gandum itu. Ia hanya berhak sebagai penjaga dan pemegang kunci baitulmal, tetapi tidak berhak mengambilnya, walau untuk dirinya sekalipun.

Seusai salat Subuh, Nabi kembali menanyai Abu Hurairah perihal pencuri di baitulmal. Abu Hurairah membenarkan bahwa semalam memang ada pencuri, tetapi tetap si pemuda itu. Ditanya oleh Nabi mana orangnya. Ia menjawab,"Mohon maaf Rasulullah, saya kembali melepasnya karena ternyata bukan maling biasa. Ia bahkan menasihati dan memberi aku wirid, ayat kursi, yang katanya kalau dibaca, iblis akan ketakutan dan lari terbirit-birit sampai ke ujung langit."

Akhirnya Nabi menjelaskan,"Hai Abu Hurairah, pencuri yang datang dan engkau telah tangkap basah itu adalah iblis yang menjelma menjadi manusia."

Dari situ Abu Hurairah sangat menyesal: mengapa sosok yang paling ia benci dan sudah ditangkap, tetapi dilepas lagi?

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari kisah ini ialah kita perlu memegang amanah itu sekuat-kuatnya dan tidak boleh luluh dengan bujuk rayu dan tunduk dengan tekanan apa pun dan dari siapa pun demi memegang teguh amanah yang dibebankan di atas pundak kita.

Semakin besar amanah yang diemban, semakin besar pula godaannya. Kita perlu berhati-hati sebagai pemegang amanah, karena terkadang di sekitar kita ada iblis berjubah malaikat dan ada malaikat yang berjubah iblis, yang kedua-duanya ingin mengukur tingkat kedalaman iman kita.

Abu Hurairah menampilkan contoh yang baik. Ia bergeming untuk mengambil harta baitulmal, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Namun sebagai manusia biasa, ia juga tidak luput dari kelemahan, karena terpengaruh bujuk rayu iblis yang menyamar sebagai pencuri. Pasti ini ada hikmahnya sebagai proses pembelajaran dan kematangan spiritual kita di dalam menjalani perjalanan hidup kita. Inilah pelajaran di dalam menancapkan jangkar kehidupan.

*Dosen Islam Madani Universitas Paramadina Jakarta

Sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadan/761161/jangkar-kehidupan

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed