fbpx

Menjadi Insan Kamil

Oleh: Aan Rukmana*

 

Puasa Ramadan akan berakhir dalam beberapa hari ini. Bagi sebagian masyarakat ada yang merasa bersyukur Ramadan akan segera berakhir, tetapi sebagian lainnya merasa sedih meninggalkan bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Sebagai bulan pelatihan rohaniah tentu ada di antara kita yang lulus ujian dan ada juga yang terkendala banyak hal, sehingga pelaksanaannya tidak bisa dijalankan secara total.

Apa pun hasilnya, kita harus tetap memiliki keyakinan bahwa puasa melatih kita untuk terus berproses dari manusia awal (al-insân al-qadîm) yang penuh dosa menuju manusia masa depan yang penuh kebaikan (al-insân al-kâmil). Sebagaimana termaktub di alam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183 bahwa yang menjadi objek undangan berpuasa adalah orang-orang yang beriman (alladzîna âmanû) menuju satu titik akhir, yaitu ketakwaan (la’allakum tattaqûn). Ketakwaan inilah salah satu ciri manusia yang sudah sampai kepada titik kualitas tertingginya.

Di dalam tradisi Islam dikenal satu istilah, yaitu al-insân al-kâmil yang dapat diartikan sebagai manusia universal atau manusia yang serba-meliputi. Al-insân al-kâmil bukanlah manusia kaleng-kaleng yang memiliki orientasi hidup semata persoalan duniawi, akan tetapi meski kakinya menginjakkan kaki di bumi, rohnya terhubung langsung dengan alam langit.

Boleh saja selama hidup ia berprofesi sebagai tukang ojek, buruh kasar, atau mungkin direktur sampai komisaris, akan tetapi itu semua tidak pernah menurunkan kualitas dirinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya. Sebagai hamba Allah, ia akan tunduk kepada semua ketentuan Allah atas dirinya. Ia akan mengikuti apa-apa yang diperintahkan Allah sekaligus menghindari apa-apa yang dilarang-Nya.

Hidup di bawah rida Allah adalah kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun, termasuk oleh segenap dunia serta segala isinya. Sebagai khalifah Allah, ia akan berperan aktif di dalam membangun peradaban dunia ke arah lebih baik lagi. Ia tidak akan berdiam diri di saat melihat kerusakan di atas muka bumi ini, sekaligus akan berjuang di dalam memelihara kehidupan yang sudah diamanatkan kepada dirinya. Ia akan menjadi pemimpin, bukan hanya untuk dirinya, juga untuk segenap alam semesta. Ia akan menghormati manusia sebagaimana ia pun akan menghormati semut-semut kecil yang berjalan di depannya. Alih-alih membuat keonaran dalam hidup ini, al-insân al-kâmil akan menjadi penyeimbang agar hidup berjalan harmonis dan seimbang.

Bagi seseorang yang sudah tercerahkan tersebut boleh jadi ia memiliki dua mata, akan tetapi kedua mata tersebut mewakili mata-mata lain yang tidak mampu memandang kehidupan dengan jernih. Ia pun memiliki dua tangan, akan tetapi dengan kedua tangannya itu ia banyak membantu tangan-tangan lain yang papa dan tak berdaya. Ia pun menjadi co-partner Sang Khalik yang terlibat aktif dalam menjalankan amanah kekhalifahannya.

Setiap malam pribadi yang istimewa ini duduk tafakur bercengkrama dengan Allah di dalam kesunyian malam. Di saat manusia lain terlelap tidur, ia justru bangun menghampiri Allah Swt. Dalam keheningan malam, ia memanjatkan doa agar diberikan kekuatan di dalam menjalankan amanah membangun dunia menjadi lebih baik lagi.

Di siang hari, ia terlibat aktif di masyarakat. Andai ia bekerja sebagai buruh pabrik sekalipun, ia akan bekerja dengan segenap hatinya. Komitmen ia bekerja bukan karena takut pada departemen SDM perusahaannya, tetapi ia memiliki komitmen langsung dengan Allah.

Andai ia menjadi pengusaha atau politisi, maka ia pun akan bekerja dengan tulus dan ikhlas dalam rangka mencari rida Allah Swt. Pantang bagi jiwa yang bekerja karena Allah untuk berperilaku koruptif, menindas sesama atau bawahan, apalagi bersikap angkuh di hadapan manusia lainnya. Ia menyadari bahwa hidup yang dijalaninya merupakan titipan dari Allah, maka sebagai titipan, kita bertugas untuk menjalankannya dengan baik sehingga ketika diminta untuk mengembalikan hidup ini, akan dikembalikan kepada Allah tanpa kekurangan suatu apa pun.

Al-insân al-kâmil memiliki kepribadian yang sangat stabil dan tenang seperti samudera yang tampak tenang di permukaan akan tetapi itu menunjukkan kedalaman jiwanya. Meski ia hidup bergulat dengan dunia, tidak pernah sedikit pun hatinya terikat oleh dunia. Ia sengaja menutup hatinya sekuat-kuatnya karena hanya ia peruntukkan untuk Allah yang sudah memberikannya kehidupan.

Selama hidup, ia hanya ingin menebar kebaikan, berbagi dengan sesama baik yang dikenalnya maupun tidak, dan yang jelas di saat dunia ini semakin gelap, ia akan tetap bercahaya seperti kunang-kunang yang terus bersinar di tengah kegelapan malam. Tidak heran jika manusia-manusia seperti inilah yang menjadi paku bumi serta alasan dari diciptakannya dunia ini.

Selama al-insân al-kâmil ini hadir di tengah-tengah masyarakat, maka kehidupan akan terus terjaga sisi kebaikannya. Sebaliknya jika kelompok ini sudah semakin hilang dan jarang, bisa jadi ini penanda bahwa dunia ini semakin tua dan sudah sampai kepada titik ujungnya. Semoga kita semua dapat menjadi al-insân al-kâmil yang melanjutkan amanat kenabian di dunia ini.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

Sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadan/772501/menjadi-insan-kamil

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed