fbpx

Puasa dan Transformasi Sosial

Oleh: Husain Heriyanto*

 

Salah satu keistimewaan khas ibadah puasa terletak pada potensinya memberikan kemampuan internal pada diri manusia yang dengannya ia dapat mengubah dan mentransformasi diri secara revolusioner atau signifikan. Kemampuan internal (inner energy) yang beroperasi pada jiwa-batin manusia itu adalah apa yang disebut dengan transformasi spiritual.

Kemampuan khas kemanusiaan ini sungguh teramat penting, karena berkat kemampuan transformasi inilah nilai-nilai spiritual menjadi nyata dan termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dimaksudkan dengan transformasi spiritual itu?

Transformasi Spiritual
Transformasi itu berarti suatu daya atau kemampuan untuk mengubah suatu bentuk ke bentuk lain (trans: perubahan, pergerakan; forma: bentuk). Penggunaan prefiks trans dalam istilah transformasi biasanya dipahami perubahan ke arah yang lebih bermakna, tinggi, luas, dan multidimensional. Kata transformasi juga berarti sebagai upaya penerjemahan dari suatu keadaan lingkungan tertentu ke keadaan lingkungan lain. Penerjemah suatu bahasa ke bahasa lain disebut sebagai translator.

Perubahan suatu bentuk energi ke energi lain, misalnya energi listrik menjadi energi panas, juga disebut sebagai transformasi; dan karena itu setrika listrik disebut sebagai transformator energi. Perubahan tatanan sosial suatu masyarakat ke tatanan yang lain yang lebih baik juga disebut sebagai transformasi. Orang atau kelompok orang yang terlibat dalam pergerakan dan perubahan masyarakat dan sistem sosial itu disebut sebagai transformator.

Hanya saja istilah reformasi dan reformis lebih kerap digunakan untuk pengertian transformasi dan transformator ini, meskipun Romo Mangunwijaya (alm) pada 1999 pernah mengusulkan pengggunaan istilah transformasi untuk menggantikan istilah reformasi menyusul terdistorsinya gerakan reformasi yang bergulir di Tanah Air. Nah, kita menggunakan pengertian yang kedua ini, yaitu suatu jenis perubahan yang positif menuju keadaan yang lebih baik, bermakna, dan lebih luas.

Istilah spiritual yang dimaksudkan adalah kesadaran rohani akan kehadiran dan kedekatan kepada Allah. Tingkat kedekatan seseorang kepada Allah merupakan ukuran kesadaran spiritualitasnya. Karena itu, spiritualitas berkorelasi positif dengan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh. Al-Qur'an sendiri menyebutkan bahwa tujuan utama puasa adalah menggapai ketakwaan (la’allakum tattaqūn, QS Al-Baqarah ayat 183).

Makna Takwa
Secara etimologi, takwa itu berarti takut dan secara terminologi, takwa dipahami sebagai sikap seorang mukmin yang menjalankan segenap perintah Allah dan menjauhi segenap larangan-Nya. Namun, secara filosofi, takwa dipahami lebih esensial, mendasar, dan universal. Sebagaimana yang dikutip Nurcholish Madjid dari tafsir The Holy Quran karya Yusuf Ali, takwa adalah kualitas manusia rabani (a man of God). Manusia rabani ini memiliki “kesadaran ketuhanan” (God consciousness), kesadaran akan kehadiran Wujud Yang Maha Hadir (Omnipresent, Maha Meliputi, al-Muḫīth) dalam seluruh kehidupannya.

Kesadaran ini menghidupkan semangat ketuhanan (rabaniah) pada diri seseorang yang mendorongnya secara internal dan alamiah selalu berupaya mencari rida Allah, segan dan malu melakukan perbuatan yang dimurkai-Nya. Kesadaran ini menggerakkan seseorang untuk mengerahkan seluruh aktivitas, kreativitas, dan potensi hidupnya untuk menceburkan diri dalam lautan kebenaran melalui pengabdian total kepada Allah dan pelayanan kepada kemanusiaan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menggambarkan orang-orang yang tenggelam dalam kesadaran rabaniah ini secara benar. “Mereka sangat tekun beribadah kepada Allah dan sangat giat dan aktif berbuat ishlah dan amal saleh untuk masyarakatnya".

Dengan demikian, makna transformasi spiritual adalah suatu kemampuan seseorang untuk mengubah atau menerjemahkan rohani dan spiritualitasnya kepada kehidupan yang lebih luas, nyata, bermakna, dan multidimensi. Transformasi spiritual memungkinkan seseorang untuk mentransfer kedekatannya dengan Allah untuk juga dekat dengan sesama manusia dan alam raya.

Orang yang memiliki kemampuan transformasi spiritual akan menyebarkan rahmat dan petunjuk Tuhan kepada seluruh isi alam semesta, dan dengan cahaya ilahi mampu mengubah sejarah perjalanan dunia ke arah yang lebih baik.

Transformasi spiritual merupakan upaya mentransfer pengalaman spiritual yang bersifat pribadi dan subjektif menjadi bercorak sosial dan objektif. Kehangatan spiritual pribadi diterjemahkan ke dalam kehangatan sosial sedemikian rupa sehingga kita sendiri pun dapat menilai kadar spiritualitas kita yang sesungguhnya. Misalnya, ibadah puasa yang telah kita lakukan membuat diri kita merasa dekat dengan Allah; kita mungkin saja telah merasa memiliki jiwa yang suci, tenteram, damai, dan khusyuk di hadapan Allah.

Perasaan atau pengalaman spiritual itu masih subjektif dan perlu diuji dalam lapangan kehidupan konkret ketika berinteraksi sosial. Misalnya, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita memiliki kepekaan terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain, dermawan, lebih sabar, berani karena benar, jujur, amanah, tidak emosional, dan sikap moral lainnya yang menunjukkan kesucian jiwa kita? Cara hidup dan sikap kita dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi sosial menggambarkan kondisi otentik jiwa dan spiritualitas kita. Kehidupan bermasyarakat merupakan cermin batin seseorang.

Filsuf dan penyair terkenal Muhammad Iqbal berkata:

Individu mengada sebagai bagian dari masyarakat;
Ada sendirian bukan apa-apa;
Ombak adalah ombak hanya di dalam segara;
Di luar itu ia bukan apa-apa.

Jadi, di sini terjadi objektivikasi spiritualitas yang dengannya kemurnian, keotentikan, dan kesejatian spiritualitas itu dapat kita evaluasi sendiri. Objektivikasi ini merupakan verifikasi kesahihan pengalaman spiritual kita. Jika cahaya spiritualitas itu tidak dapat kita terjemahkan atau transfer ke dalam kehidupan nyata sehari-hari, maka terdapat sesuatu yang keliru, entah pada pemahaman kita, niat ataupun prasangka kita terhadap amal dan ritual yang kita lakukan.

*Dosen Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Jakarta


Sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadan/762741/puasa-dan-transformasi-sosial

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed