Salam Rindu Allah

Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Saat ini Indonesia dan banyak negara di dunia sedang berhadapan dengan musibah Covid-19 yang juga dikenal dengan virus corona. Virus ini yang sangat cepat menyebar dan merenggut banyak nyawa. Musibah tidak hanya terjadi saat ini saja, melainkan sejarah telah menyampaikan bagaimana musibah terjadi dan berlalu.

Allah menyebut kata musibah beberapa kali dalam Al-Qur’an. Dalam penyebutan tersebut, musibah dimaknai dalam dua pengertian, malapetaka dan ujian. Al-Qur’an menggunakan istilah fitnah untuk menyebut musibah dalam makna malapetaka atau bencana dan ini terjadi akibat ulah manusia. Fitnah atau malapetaka ini tidak saja menimpa orang yang bersalah, juga orang yang tidak bersalah. Misalnya, sopir bus yang ugal-ugalan kemudian menyebabkan kecelakaan adalah bencana untuk orang lain.

Musibah dalam makna ujian lebih banyak menggunakan istilah bala. Bala datangnya dari Allah. Berbeda ujian yang datang dari manusia dengan ujian yang datang dari Allah. Ujian yang datang dari manusia tidak disebutkan bentuk dan materinya, karena jika disebutkan, maka ujian tersebut akan bocor. Ujian yang datang dari Allah disebutkan bentuk dan materimya, apakah gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kematian, dan lain sebagainya. Tujuan Allah menyebut bentuk dan materi ujiannya adalah agar manusia bersiap-siap dalam menerimanya dan bersabar dalam menghadapinya.

Musibah dalam makna ujian tidak saja berlaku pada manusia biasa. Para nabi dan Rasul Allah juga pernah mengalami musibah. Nabi Ayyub pernah mendapatkan penyakit yang sangat parah. Sekujur badan Nabi Ayyub dikerumuni belatung yang menyebabkan ia dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan. Ia tiba-tiba mengatakan kepada belatung di sekujur tubuhnya: kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu, tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian. Ayyub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung itu.

Nabi Adam juga pernah diuji oleh Allah yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari surga. Nabi Muhammad juga pernah diuji oleh Allah melalu Ummi Maktum yang buta.

Jika kita melihat sejarah dalam setiap musibah, kita akan memahami bahwa musibah merupakan ujian kenaikan kelas. Tanpa ujian biasanya tidak ada kenaikan kelas. Musibah adalah cara Allah menunjukkan rindu pada hamba-Nya, karena ketika Allah memberikan kesenangan dan kemewahan, hamba-Nya jarang memenuhi undangan Allah.

Nabi Muhammad SAW berpesan bahwa jika Allah menyayangi hamba-Nya, maka siksaannya didatangkan lebih awal di dunia supaya di akhirat nanti lunas. Itu adalah salam rindu Allah terhadap hamba-Nya. Jika Allah tidak menyukai hambanya, maka Allah akan menunda siksaan-Nya di akhirat dengan siksaan yang amat pedih.

Hadis lain juga menyampaikan bahwa orang yang menjalani sakit demam sehari maka akan dihapuskan dosanya setahun.

Agama telah mengajarkan kepada kita bagaimana etos menghadapi musibah, demikian juga terkait virus corona. Optimisme perlu untuk dibangun dan cara berpikir perlu untuk dibentuk agar kita tidak salah dalam bersikap. Banyak yang menunjukkan pemahaman yang salah dan berujung pada tindakan yang salah.

Cara pandang yang salah terhadap musibah akan melahirkan ketakutan yang berlebih yang kemudian, misalnya melakukan tindakan panic buying. Cara pandang yang salah juga melahirkan keberanian yang tidak pada tempatnya dengan tidak menghiraukan imbauan pemerintah untuk menjaga jarak, beribadah di rumah, dan menggunakan masker misalnya, karena beranggapan bahwa Allah akan membantunya terbebas dari virus corona. Ia lupa bahwa sebenarnya Allah telah membantunya lewat pengetahuan, bahwa ia akan terhindar dari virus corona jika ia melakukan sikap-sikap sesuai dengan imbauan pemerintah dan para ahli dalam bidang kesehatan.

Sikap tersebut juga pernah disampaikan oleh hadis nabi, bahwa jika kita berada dalam suatu daerah yang terkena wabah maka kita sebaiknya tidak keluar dari daerah tersebut, karena berpotensi menularkan dan jika kita di luar daerah terkena wabah, maka hendaknya kita tidak mendatangi daerah itu. Para sahabat juga pernah melakukan sikap demikian seperti yang dicontohkan Umar bin Khatab.

Islam memberikan kita prinsip bahwa menjaga diri adalah yang utama, karena dengan menjaga diri, kita menjaga keluarga serta umat manusia. Agama mengatakan barang siapa yang menyelamatkan satu manusia, maka hakikatnya ia menyelamatkan seluruh umat manusia.

*Staf Pengajar Universitas Paramadina Jakarta

sumber:

https://www.beritasatu.com/jalan-pulang/631133/salam-rindu-allah

 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed