Dampak Emosi Imbas Kuliah Online Akibat Covid-19

Cilegon – Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina yang juga Ketua Asosiasi Psikolog Pendidikan (APSI) Wilayah Banten, Tia Rahmania, M.Psi,.Psikolog bagikan cara atasai hal negatif imbas kuliah daring (Online) akibat Covid-19.

Berdasarkan data pemerintah hingga Rabu (13/5/2020) pukul 12.00 WIB, total ada 15.438 kasus Covid-19 di Indonesia, sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

Pandemi Covid-19 ini menimbulkan pengaruh pada masyarakat, salah satunya hadir kebijakan kuliah daring (online) yang kemudian menjadi topik hangat dalam pendidikan di Indonesia karena menjadikan terbentuknya budaya baru hampir pada semua lini dunia pendidikan Indonesia.

Tia Rahmania menjelaskan Adanya Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan, sebagai upaya pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) mendukung hal ini.

“Penemuan pada masyarakat Cina sebagai negara yang pertama kali munculnya pandemi Covid-19 menunjukan adanya peningkatan emosi negatif (kecemasan, depresi, dan kemarahan) dan sensitivitas terhadap risiko sosial, serta penurunan emosi positif dan kepuasan hidup setelah diumumkannya wabah Covid-19 ini,” jelasnya kepada BarometerNews, Kamis (14/5/2020).

Sesungguhnya, kata Dia budaya daring pada pendidikan tinggi dapat berpotensi sangat menegangkan bagi mahasiswa. Jika dipersepsi secara negatif, akan menimbulkan stres yang dapat memengaruhi kinerja akademik siswa dan kepuasan hidup mereka secara keseluruhan.

“Belum lagi situasi saat ini yang ternyata menjadikan masyarakat tetap beraktivitas di rumah lebih lama karena banyaknya daerah yang memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuntut mahasiswa lebih lama mengalami pembelajaran secara daring. Tidak mengherankan bila kondisi sekarang secara umum berpotensi mendorong hadirnya emosi negatif pada masyarakat sehingga menjadikan rentannya kondisi psikologis masyarakat,” Katanya.

 

“Hal ini perlu diperhatikan mengingat emosi negatif jangka panjang dapat mengurangi fungsi kekebalan tubuh manusia dan menghancurkan keseimbangan mekanisme fisiologis normal,” imbuhnya.

 

Pada metode kuliah daring di masa pandemi Covid-19 ini, kata ia ternyata terdapat empat kelompok dosen yang menerapkan metode daring.

“Kolompok satu, Dosen di kelompok ini melakukan kuliah daring sebatas mengirim bahan ajar melalui media sosial yang populer seperti Whatsapp (WA) atau melalui email. Sebagai akibatnya pengalaman kuliah yang sangat beragam hanya tergantikan oleh komunikasi melalui WA atau email. Ini tentunya dapat membuat mahasiswa merasa bosan dan sangat merasakan kehilangan suasana kuliah seperti yang mereka nikmati sebelumnya,” katanya.

Kelompok Dua, kata Tia, Dosen di kelompok yang kedua ini melakukan kuliah melalui platform seperti Moodle, Edmodo, Google Classroom, Schoology atau platform lain yang sejenis. Dosen di level dua paham tentang LMS (red-Learning Management System) dan dapat memanfaatkan fitur-fitur yang ada misalnya untuk melakukan kuis.

“Namun demikian komunikasinya yang terjadi masih sebatas bertukar catatan saja dan tidak ada interaksi yang langsung secara verbal, atau secara verbal dan visual sekaligus misalnya melalui video call. Mahasiswa didik mungkin akan merasakan sebuah pengalaman baru dan berbeda untuk beberapa saat namun dalam jangka panjang bila hanya seperti ini saja maka mahasiswa akan kehilangan suasana sosial dalam belajar,” terngnya.

Kelompok Tiga, Dosen di kelompok ini mengelola kuliah melalui platform LMS dan juga mengkurasi bahan ajar yang terdapat di internet serta secara sengaja menciptakan interaksi langsung yang terjadwal dengan peserta didik secara sinkron.

“Di kelompok ini dosen dengan mahasiswa berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan mendengar suara, atau suara dan gambar walaupun itu dilakukan melalui teknologi. Untuk para dosen yang masuk di kelompok 3 ini interaksi sosial menjadi agenda dari rencana pembelajaran,” katanya.

Kelompok Empat, Dosen di kelompok ini melakukan pembelajaran daring seperti kelompok Tiga namun mereka menambahkannya dengan instruksi belajar yang lebih bervariasi termasuk menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber belajar dengan cara membagikan rekaman suara atau video yang diproduksi sendiri untuk keperluan pembelajaran daring.

“Dosen dapat menghasilkan instruksi-instruksi yang memandu mahasiswa untuk bisa melakukan collaborative learning dan experiential learning secara mandiri di tempat masing-masing,” ungkapnya.

Tentunya banyak faktor yang menjadikan seorang dosen berada dalam kategori kelompok tertentu, penguasaan dosen pada teknologi, fasilitas teknologi yang dimiliki serta kreatifitas para dosen menjadi kunci.

“Apabila boleh memilih, barangkali baik mahasiswa dan dosen lebih memilih kuliah tatap muka daripada daring karena faktor kebiasaan serta adanya masalah pada jaringan internet yang terkait juga dengan biaya kuota yang dikeluarkan,” ungkapnya.

Penggunaan platform yang memungkinkan penggunaan audio visual secara bersamaan dapat menyedot kuota internet dengan lebih cepat yang artinya menjadikan biaya yang lebih tinggi. Selain itu jaringan yang bermasalah bisa terjadi sehingga proses kuliah tidak begitu efektif untuk tanya-jawab serta dalam hal menerangkan materi.

“Mahasiswa mengeluhkan waktu yang terbatas karena para dosen lebih banyak memberikan tugas/quiz. Para dosen yang harus bekerja di rumah ternyata mengalami kesulitan karena di rumah pun banyak hal yang membuat mereka terdistraksi karena menumpuknya pekerjaan lain. Hilangnya kebersamaan dengan teman-teman dan menghabiskan waktu santai bersama sebayanya menjadi hal yang dikeluhkan mahasiswa,” terangnya.

Walau begitu, Imbuh Tia, terdapat dampak positif perkuliahan secara daring ini. Baik mahasiswa dan dosen dapat lebih leluasa dalam mengatur jadwal dan lebih dekat dengan keluarga. Selain itu waktu untuk melakukan perkuliahan bisa lebih efektif dan fleksibel serta menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa maupun dosen.

“Bagi mereka yang bekerja di Jakarta tetapi tinggal di luar kota Jakarta, kondisi ini menyebabkan mereka tidak perlu menghabiskan waktu di jalan karena dapat bekerja dari rumah,” jelasnya.

“Paparan saya tersebut menunjukan bukan hanya mahasiswa yang merasakan ketidaknyamanan dalam kondisi saat ini tetapi juga para dosen. Akan tetapi sebagai individu yang memiliki kemampuan beradaptasi maka kita harus berupaya menyikapi kondisi ini dengan positif karena tetap ada sisi positif dalam situasi yang ada,” tambahnya. [red/Ihsan]

sumber: 

https://barometernews.co.id/kesehatan/dampak-emosi-imbas-kuliah-online-akibat-covid19.html

 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed