Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Al-Qur’an menyampaikan bahwa di dunia terdapat musibah dan semua musibah terjadi atas izin Allah. Namun, ada orang yang bertanya, bukanlah Allah itu Maha Baik, lalu kenapa Allah mengizinkan adanya musibah?

Ada yang menjawab bahwa terdapat dua Tuhan. Ada Tuhan yang baik dan ada Tuhan yang tidak baik dan jawaban itu tidak memuaskan nalar atau akal kita. Ada juga yang mengatakan bahwa Tuhan sudah bosan, karena manusia selalu durhaka. Ada juga yang mengatakan bahwa apa yang kita lihat tidak baik, hakikatnya itu adalah baik jika dilihat secara keseluruhan.

Banyak pendapat yang disampaikan, tetapi musibah hakikatnya adalah surat cinta Tuhan. Tuhan merindukan hamba-Nya, karena ketika Tuhan mengirimkan undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan, manusia tidak memedulikan undangan Tuhan tersebut untuk naik ke langit.

Maka, Tuhan mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah. Musibah dalam makna ujian keburukan (balaun sayyiah) mampu mengangkat martabat kemanusiaan. Namun, musibah dalam makna ujian kebaikan (balaun hasanah) sulit manusia untuk lulus, sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah.

Kata musibah diulang oleh Allah beberapa kali dalam Al-Qur’an. Kata musibah diambil dari kata ashaba. Musibah dalam bahasa Al-Qur'an adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai bencana. Dalam Al-Qur’an, istilah yang dipakai untuk bencana adalah fitnah. Fitnah dalam Al-Qur’an diartikan sebagai bencana yang muncul akibat ulah manusia dan menimpa orang yang salah dan orang yang tidak bersalah.

Misalnya, sopir bus yang ugal-ugalan, kemudian menyebabkan kecelakaan yang merupakan bencana untuk yang lain. Istilah lain yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah bala. Bala artinya adalah ujian, bukan marahnya Tuhan (dalam bahasa Indonesia) dan bala datangnya dari Allah. Bala pasti dialami oleh manusia dan sumbernya adalah dari Allah. Istilah yang lain lagi adalah azab yang bermakna siksaan yang disesuaikan dengan tindakan seseorang dan selalu menyakitkan, tetapi Allah sering mengurangi walaupun mestinya secara adil harus setimpal.

Terkait ulah manusia, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tidak ada yang terjadi di luar izin Allah. Izin Allah maksudnya adalah adanya sistem dalam semesta (sunatullah). Misalnya, jika kita sedang berkendara membawa sepeda motor dan kemudian terjadi hujan deras, maka sistem yang berlaku adalah untuk tidak memacu kendaraan bermotor dengan cepat, karena jika tidak demikian maka kita akan terjatuh. Mahasiswa untuk bisa lulus ujian, mesti belajar. Api pastilah bersifat panas dan es pasti bersifat dingin dan semua itu adalah sistem yang berlaku pada semesta dan jika ingin selamat manusia mesti mengikuti sistem tersebut.

Allah adalah rabbil alamin, pemelihara alam semesta. Dalam pemeliharaan alam terkadang ada yang tidak baik bagi perspektif yang lain. Misalnya, meletusnya gunung berapi dan lain sebagainya yang menimpa orang yang berdosa dan tidak berdosa. Jadi, perlu untuk ditempatkan sesuatu pada tempatnya, apakah itu musibah, bala, atau itu adalah fitnah?

Penderitaan adalah salah satu ujian kenaikan kelas. Tanpa ujian, biasanya tidak ada kenaikan kelas. Namun, masih banyak manusia yang tidak memahami bahwa musibah dan penderitaan adalah ujian kenaikan kelas. Di balik setiap musibah dan penderitaan selalu ada rahasia Tuhan yang sulit ditebak. Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan, bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, jika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan, tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.

Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan, hanyalah masalah psikologis. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil. Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. Nikmati penderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan.

Dalam kosmologi Islam dikenal ada dua sayap kehidupan yang menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur. Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan, seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu, maka dengan sendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan. Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan.

*Staf Pengajar Universitas Paramadina Jakarta

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/636099/surat-cinta-dari-allah?fbclid=IwAR087X0IOTAYT0TtYF-0SH5-j487tS6eK_SAYfTXCW5np2ksbo6X7Nd2U94 

Oleh: M Subhi-Ibrahim*

Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu. (HR Ibnu Majah no. 4181)

Dalam keseharian, kita kerap berucap,”Saya malu.” Ungkapan tersebut bukan sekadar ucapan tanpa isi (makna). Ungkapan tersebut terkait dengan eksistensi kita, keberadaan kita, cara mengada kita. Uniknya, malu bukan terletak hanya pada muka saja, atau pada salah satu bagian tubuh kita. Seluruh diri, jiwa dan raga. Kita merasakan malu. Diri kita malu.

Lalu apa itu malu? Malu (al-haya’) diartikan sebagai momen dukacita yang terjadi pada jiwa karena takut dicela. Dalam Nashaih al-Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani membagi malu menjadi dua. Pertama, malu nafsani, malu yang berasal dari kodrat kita sebagai manusia.

Kodrat apakah yang dimaksud? Ada dua kodrat dalam konteks malu jenis ini. Pertama, malu sesuai dengan kodrat manusia, yakni ketidakmampuan untuk mengungkap keseluruhan diri. Dalam relasi dengan orang lain, seseorang memiliki kecenderungan untuk menutupi sebagian dari dirinya. Menjadi manusia berarti setengah terbuka, setengah tertutup.

Sedekat apa pun kita dengan seseorang, selalu tersisa sisi misteri dari orang tersebut. Ada semacam privasi yang harus dijaga. Jika privasi tersebut dibongkar, seseorang akan merasa kehilangan keamanaan dirinya, merasa haknya diperkosa, dan merasa malu. Contohnya, kita merasa malu telanjang di depan umum.

Kedua, malu sebagai konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial (social being). Dalam konteks sosial, malu terkait erat dengan kehormatan. Secara naluriah, tiap orang, individu, menghargai dirinya. Seseorang pasti melihat dirinya sebagai sesuatu yang berharga, bernilai, dan mulia.

Anggapan pribadi tersebut mendapatkan konfirmasi dari lingkungan sosial, masyarakat, dalam bentuk status sosial. Jadi, kehormatan adalah penghargaan diri yang diakui dan diterima oleh masyarakat.

Malu sendiri merupakan perasaan yang menyertai kehormatan itu. Orang yang punya rasa malu adalah orang yang sensitif terhadap reputasi sosialnya. Orang yang tidak punya rasa malu adalah mereka yang tidak peduli dan tidak menghargai ikatan sosial, dalam bentuk status sosialnya itu. Orang tersebut akan kehilangan status sosialnya, dan dipandang negatif, nista. Karena itu, buah dari rasa malu adalah menjaga kehormatan (’iffah). Shalih ibn Abd al-Qudus menggubah sebuah puisi:

Apabila sedikit air muka
Maka sedikit rasa malunya
Tidak baik muka yang sedikit air
Maka peliharalah rasa malumu
Karena yang menunjukkan perbuatan orang mulia ialah rasa malunya

Nah, erosi rasa malu dalam masyarakat modern, yang kita alami saat ini, disebabkan pertama, manusia modern memiliki kecenderungan untuk membuka apa yang tidak pernah bisa dibuka; menelanjangi yang tak dapat ditelanjangi; manusia modern tidak suka dengan misteri. Semuanya harus transparan, bisa dijelaskan. Karena itu, dilakukanlah demitologisasi misteri.

Kemudian, kedua, manusia modern memiliki kecenderungan untuk menjadi individu yang total otonom, tak tergantung pada yang lain. Kesosialan diabaikan demi otonomi, padahal kodrat kesosialan itulah yang menyebabkan individu memiliki rasa malu.

Untuk merehabilitasi rasa malu yang luntur dari masyarakat modern saat ini, kita perlu mengembalikan manusia pada dua kodrat asalinya, yakni manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan menutup dan membuka diri serta manusia sebagai makhluk sosial.

Setelah yang pertama, malu sesuai dengan kodrat manusia, kedua adalah malu imani, yakni rasa malu yang dipicu oleh iman. Memang, Rasulullah SAW secara eksplisit mengaitkan malu dengan iman. Dalam beberapa hadis Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut.

Iman terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu adalah salah satu dari bagian-bagian iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Malu dan iman itu bergandengan bersama, apabila salah satunya diangkat, maka yang lain pun akan terangkat. (HR Al Hakim)

Mengapa malu dikaitkan dengan iman? Minimal ada dua alasan. Pertama, pada dasarnya, iman adalah tanggapan hati kita akan kehadiran Allah. Tanggapan hati akan kehadiran Allah tersebut adalah buah makrifah (pengenalan bukan sekadar tahu) kita atas-Nya.

Kita mengenal Allah. Lalu, apa isi pengenalan kita tentang Allah? Kita mengenal bahwa: Allah itu ada, Allah adalah pencipta, dan Allah selalu hadir pada tiap inci hidup kita. Allah adalah asal wujud kita. Kita tidak mungkin ada tanpa-Nya. Nikmat wujud adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan-Nya. Namun, untuk itu semua, apakah kita telah mampu mengabdi kepada-Nya dengan sepenuh hati?

Kita malu untuk menjawabnya, bukan? Karena itu, al-Junaid berkata: perasaan malu adalah kondisi jiwa yang timbul dari kesadaran akan adanya nikmat dan akan adanya kekurangan pengabdian. Kita malu karena kita berlaku buruk di hadapan sang pemberi nikmat.

Nah, di sinilah urgensi malu! Malu menjadi tembok psikis agar kita tidak melakukan pelanggaran di hadapan kehadiran-Nya. Malu adalah rem perilaku. Malu mencegah kita dari perbuatan nista dan hina. Karena itu, jika kita tidak memiliki rasa malu, maka kita akan seenaknya dalam bertindak.

Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali ditemui manusia adalah jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR Bukhari)

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW pernah berkata pada al-Asyad al-‘Asyri, seperti dikutip oleh Ibn Abbas,"Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua hal yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan rasa malu.” (Musnad Ahmad)

Tingkat tertinggi rasa malu adalah malu kepada Allah. Bagaimana penjelasan Rasulullah SAW tentang rasa malu kepada Allah tersebut? Dari Ibn Mas’ud, ia berkata: Rasulullah bersabda,”Milikilah rasa malu pada Allah dengan sebenar-benarnya! Kami, para sahabat, berkata ’wahai Rasulullah, alhamdulillah, kami telah memiliki rasa malu’. Rasulullah berkata ’bukan sekadar itu'. Barang siapa yang malu kepada Allah yang sesungguhnya hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya. Hendaknya ia menjaga perutnya dan apa yang di dalamnya. Hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barang siapa yang mengerjakan itu semua, berarti ia malu kepada Allah dengan sesungguhnya.” (Musnad Ahmad)

Sebagai penutup, saya kutipkan sebuah hadis Qudis yang dikutip oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaih al-Ibad-nya. Hadis ini diturunkan kepada sebagian para nabi. Bunyinya,"Barang siapa menemui Aku dengan senang kepada-Ku, maka Aku masukkan ke dalam surga-Ku. Barang siapa menemui Aku dengan rasa takut kepada-Ku, maka Aku elakkan dari neraka-Ku. Barang siapa menemui Aku dengan rasa malu kepada-Ku, maka Aku buat malaikat lupa menghitung dosa orang itu."
Wa Allah a’lam bi al-shawab.

*Dosen Universitas Paramadina Jakarta

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/633815/rehabilitasi-rasa-malu 

Oleh: Muhamad Iksan*

RADARBANGSA.COM - Kita sudah memasuki lebih dari separuh Ramadhan 144xH, biasanya warga kota besar sudah bersiap-siap untuk pulang kampung ke kampong halamannya masing-masing. Merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta di kampung halaman, berbagi rezeki Tunjangan Hari Raya memeratakan “kue” ekonomi dari kota ke desa. Tapi tahun ini berbeda.

Data terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona, pemerintah Indonesia mengumumkan data terbaru pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) Corona di Indonesia. Per Senin 11 Mei 2020, jumlah PDP bertambah menjadi 31.994 orang. Pemerintah juga merilis jumlah ODP mencapai 249.105 orang.

Dengan demikian, terdapat 14,265 orang positif Covid yang dinyatakan sembuh sejumlah 2,882 orang dan meninggal dunia sebanyak 991 orang. Jumlah yang relatif besar misalnya dibandingkan dengan Taiwan yang mencatat 440 positif Covid, dengan 7 orang meninggal dan 368 orang dinyatakan sembuh.

Walaupun begitu, jumlah penduduk Indonesia memang lebih dari sepuluh kali lipat dari jumlah penduduk Taiwan. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Taiwan bahwa pulau Formosa terbebas dari pandemi virus Corona. Namun karena sedari awal, tidak ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sini kehidupan berjalan normal, dengan tetap waspada.

Dua Opsi Kebijakan

Semenjak awal tahun 2020, sejumlah Negara telah mengambil berbagai kebijakan yang pada intinya bermuara pada dua opsi: penutupan (lockdown) secara menyeluruh aktivitas kehidupan: ekonomi, sosial, sekolah dan sebagainya misalnya Republik Rakyat China di mana pandemi ini berasal, India kemudian mengikuti, sebagian besar Negara Eropa seperti Italia, Spanyol, Perancis dan sebagainya walaupun terlambat.

Negara yang tidak memberlakukan penutupan (lockdown) misalnya Indonesia dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar, juga Swedia yang tidak menutup perbatasannya dan melakukan lockdown dijelaskan dengan elegan oleh Johan Norberg dari Cato Institute

Berbagai kebijakan menyertai pembatasan sosial seperti bekerja dari rumah, pendidikan jarak jauh, pembatasan kegiatan melibatkan massa besar, dan perlindungan bagi warga senior yang lebih rentan terhadap virus yang mematikan ini, terutama bagi yang berusia lanjut

Dua opsi kebijakan di atas, kita sebut saja penutupan (lockdown) dan tidak menutup (non-lockdown) dipengaruhi pelbagai faktor. Jumlah penduduk, system politik yang dianut, kondisi penanggulangan pandemi yaitu sistem kesehatan hanya sebagian faktor yang bisa diperdebatkan.

Dari dalam negeri, otoritas Negara yang menangani darurat bencana wabah penyakit akibat virus Corona di Indonesia yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), berlaku selama 91 hari terhitung sejak tanggal 29 Februari sampai 29 Mei 2020.

Bisakah kita mempercepat PSBB sehingga tidak menunggu masa tanggap darurat selesai? Jawabnya bisa saja.

Namun berkaca, dari berbagai pertimbangan rasanya risikonya cukup besar untuk mempercepat PSBB, juga telah disuarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia.

Kehidupan Normal

Tanpa penemuan vaksin Corona diperkirakan baru siap pada akhir tahun 2021, karena saat ini baru melalui pengujian tahap pertama dari 3 tahap pengujian yang harus dilalui. Kehidupan umat manusia belum akan kembali ke titik normal.

Pernyataan Presiden mungkin tidak perlu diluruskan para bawahannya bahwa kita harus mulai berdamai dengan Corona. Namun karena pernah menyatakan peperangan dengan pandemi ini. Maka publik bingung dengan pernyataan Kepala Negara kita, saat ini kita sedang berperang atau damai dengan penyakit Corona sebenarnya?

Pernyataan terbaru dari Ketua Gugus Tugas Percepatan Penangana Covid-19 Doni Manardo menegaskan pemerintah memberi kelonggaran kepada warga berusia di bawah 45 tahun untuk kembali beraktiitas di tengah PSBB, agar mencegah Pemutusan Hubungan Pekerjaan (PHK).

Kebijakan apapun yang diambil, sudah pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Dan karena kita memilih jalan demokrasi, bukan autokrasi-otoriter seperti China, suara yang kontra atau berbeda sudah tentu jamak diucapkan dan diterima dengan tangan-pikiran terbuka.

Pemerintah dapat menempuh skenario membuka secara bertahap pasca PSBB sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Karena untuk kembali kepada masa normal tanpa vaksin Corona rasanya mustahil. Adalah tugas pemerintah membuat kebijakan berbasis bukti yang kuat, mengundang sebanyak mungkin ahli dalam perumusannya, dan tidak menimbulkan kebingunan publik akibat kebijakan yang berubah-ubah.

*Muhamad Iksan adalah peneliti pada lembaga riset Paramadina Public Policy Institute di bawah Universitas Paramadina – Jakarta. Saat ini sedang bersekolah di National Cheng-Kung University (NCKU)-Tainan, Taiwan.

sumber:

https://www.radarbangsa.com/opini/24494/idul-fitri-di-tengah-psbb-kapan-akan-berakhir

 

Aan Rukmana*

Siapa pun yang ingin naik kelas dalam hidup ini, Allah selalu mengujinya dalam berbagai bentuk ujian. Ada yang diberikan ujian dalam bentuk kekayaan, popularitas, jabatan, dan kepandaian. Ada juga yang diuji dalam bentuk penyakit, penderitaan, dan kesengsaraan.

Bagi seseorang yang beriman kepada Allah, tidak ada sedikit pun peristiwa yang terjadi di atas muka bumi ini tanpa mengandung hikmah serta pesan moral di belakangnya. Di dalam tradisi Islam, kita mengenal Nabi Sulaiman yang dikenal sebagai nabi yang kaya raya. Meski beliau hidup dalam kekayaan yang melimpah, akan tetapi tidak pernah sedikit pun Nabi Sulaiman keluar dari rasa syukur kepada Allah. Tanpa izin Allah tidak mungkin ia mendapatkan kekayaan yang banyak itu.

Sama halnya dengan Nabi Ayyub yang dikenal sebagai nabi yang paling banyak mendapatkan penderitaan hidup karena penyakit yang dideritanya. Konon dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi Ayyub menderita penyakit cacar yang berlangsung sangat lama. Ada yang mengatakan selama tiga tahun, tujuh tahun, dan bahkan 18 tahun. Akan tetapi derita yang dialaminya tidak pernah sedikit pun menjadikannya berkecil hati atau mengingkari rasa syukur kepada Allah Swt. Justru sebaliknya, setiap sakit yang dirasakannya semakin memperkuat dirinya dan memperkokoh keimanannya.

Ibadah puasa kali ini, kita sedang mengalami suatu pandemik penyakit yang sama. Penyakit yang disebabkan oleh virus corona tersebut menimpa hampir seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di perkotaan maupun di perdesaan, baik yang berasal dari negara-negara kaya raya sampai negara yang masih terbelakang. Baik yang percaya Allah maupun yang mengingkari-Nya.

Rasa yang diberikan virus tersebut sama, yaitu kekhawatiran, kecemasan, serta rasa takut yang tiada berujung. Semuanya dibuat kalut dan kehilangan orientasi hidup. Corona sudah menjelma menjadi sosok yang menakutkan yang setiap saat menghantui derap langkah kaki manusia. Benarkah kita harus setakut itu menghadapi corona? Bagaimana Islam menyikapinya?

Sebagaimana diajarkan oleh Nabi Ayyub, bahwa manusia sudah seharusnya bijak melihat penyakit, apa pun itu jenisnya. Manusia harus mulai berdamai dengan penyakit supaya penyakit itu meski ada, tetapi tidak akan dirasakan sakit dan tidak menjadikan kita sakit. Tentu sikap batin seperti ini bukanlah sikap pelarian karena tidak mampu mengalahkan penyakit, akan tetapi sikap yang tepat sebagaimana Allah ajarkan kepada manusia. Apa pun yang terjadi di atas muka bumi ini, termasuk mewabahnya corona, tidak pernah lepas dari izin-Nya. Jika Allah memberikan izin atas sesuatu, tidak ada seorang pun yang mampu untuk melawannya. Sama halnya jika Allah tidak memberikan izin, maka tidak ada seorang pun yang mampu mewujudkannya.

Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa manusia diturunkan di atas muka bumi dengan misi mewujudkan kehidupan yang baik sesuai dengan perintah Allah Swt. Untuk mereformasi bumi ini, manusia dilengkapi Allah ilmu pengetahuan yang dengannya manusia mampu menundukkan bumi (taskhîr) untuk diolah dengan cara sebaik mungkin demi kemaslahatan kehidupan manusia serta bumi itu sendiri.

Allah pun mengecam manusia yang liar serta memiliki semangat eksploitatif dan destruktif atas bumi yang berujung kepada usaha menghancurkan keberadaan bumi itu sendiri. Dalam pengertian ini, ada suatu opitmisme atas hidup manusia di muka bumi ini bahwa apa pun yang ada di dalamnya dapat manusia tundukkan dengan ilmu pengetahuan dan akhlak yang mulia (integritas).

Persoalan manusia menghadapi virus dengan berbagai variannya, bukanlah hal baru. Sejak awal kemunculan manusia di atas muka bumi ini telah banyak pengalaman hidup yang dilewati manusia. Berkat tangan-tangan manusia yang memandang hidup positif dan optimistis inilah ras manusia masih dapat terus bertahan hingga saat ini.

Maka, di saat kita menghadapi corona seperti sekarang ini, bukanlah sikap yang tepat jika kita terus-menerus mengeluh dan pesimistis. Inilah saat yang tepat untuk kita menumbuhkan nilai-nilai luhur manusia, seperti membantu yang lain, saling mendukung satu dengan lainnya, memastikan para tetangga tidak kelaparan, mendorong perkembangan penelitian ilmiah untuk menghasilkan vaksin yang tepat, dan yang terpenting di atas itu semua kita harus bersabar dengan apa yang sudah Allah gariskan.

Sambil menunggu vaksin ditemukan, kita harus tmenjaga suasana batin agar terus dapat bersyukur dan bertawakal atas-Nya.

Semoga di hari raya Idulfitri yang sebentar lagi menghampiri kita, Allah memberikan kemenangan kepada kita semua karena telah lulus puasa dan juga lulus dari berbagai ketakutan yang lahir karena corona. Allahu akbar, Allahu akbar!

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/635993/berdamai-dengan-corona 

Oleh: Aan Rukmana*


Dunia kini berubah, tak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua itu bermula sejak merebaknya Covid-19 di Wuhan, Tiongkok, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali ke Indonesia. Pandemik ini telah menjadikan kehebatan manusia dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologinya goyah, bahkan keputusasaan hampir merebak di mana-mana. Berbagai ajakan menggunakan masker, mencuci tangan termasuk tinggal di rumah (stay at home) menjadi slogan baru yang terus digaungkan.

Semua orang, apa pun level ekonominya, dan juga semua agama ikut merasakan dampak wabah ini. Berbagai perayaan agama yang biasanya diadakan secara masif dipaksa untuk diganti dengan model keberagamaan yang jauh lebih privat. Ritual agama tidak lagi dirayakan secara kolosal, tetapi menjadi jauh lebih hening dan sepi dijalankan di rumah masing-masing.

Ibadah puasa yang biasanya dirayakan setiap tahun dengan berbagai keramaian, mulai dari sahur on the road, buka puasa bersama kawan-kawan kantor, ngabuburit di kala senja, salat tarawih berjemaah di masjid dijalankan di rumah saja. Sebagian orang merasa perubahan ibadah dari ruang publik ke ruang privat menjadi kurang afdal dan jauh dari kesan keutamaan. Anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah saja dengan pembatasan yang bermacam-macam menjadikan puasa jauh dari kesan sakral. Benarkah demikian?

Sebagai seorang Muslim, tentu kita harus melihat persoalan saat ini dari kacamata yang positif seperti yang diajarkan Allah di dalam Surat al-Insyirah ayat 5 dan 6 bahwa sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan (fa inna ma’a al-usri yusrâ, inna ma’a al-‘usri yusrâ).

Allah mengulang ayat tersebut dua kali untuk menunjukkan kepada kita bahwa jika di sana ada kesulitan pasti bersamaan dengannya ada kemudahan. Allah tidak menuliskan ba’da di dalam ayat itu yang berarti “sesudah". Karena, jika kemudahan didapat setelah kesulitan, ketika kita menjalani kesulitan, kita tidak akan pernah bisa bersyukur.

Maka dari itu, Allah memilih menggunakan istilah ma'a yang artinya “bersamaan dengannya”. Wabah yang saat ini tengah kita hadapi itu merupakan kesulitan (‘usri), akan tetapi cara kita menyikapinya harus dengan mental yang rileks dan open minded penuh dengan kemudahan (yusrâ). Dengan mental positif inilah, imunitas tubuh kita akan bertambah dan kita akan terus menjadi insan yang bersyukur.

Jadi, melaksanakan puasa di rumah tidak akan mengurangi kualitas pelaksanaannya. Yang ada justru sebaliknya, kita akan jauh lebih khusyuk melaksanakannya karena tidak terganggu oleh aktivitas apa pun di luar rumah. Kita dapat memperbanyak membaca Al-Qur’an (khatm Al-Qur’an), membaca buku-buku agama, zikir, menyelesaikan hal-hal yang belum selesai disebabkan kesibukan.

Dengan puasa di rumah kita belajar untuk lebih banyak melihat ke dalam batin kita (inward looking), beribadah tanpa harus ingin dikenal orang sebagai orang saleh, beribadah yang jauh lebih steril dari berbagai keriaan dan penuh kekhusyukan lagi. Maka dari itu, daripada mengutuk kegelapan lebih baik mari meneranginya dengan berbagai kegiatan positif di rumah. Yakinlah virus pasti berlalu, jangan sampai kita panik terlalu berlebihan. Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang selalu berprasangka baik. Wa Allâhu a’lam bi al-Shawwâb.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/nasional/633027-puasa-di-rumah 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed