fbpx

 

Oleh : Fuad Mahbub Siraj (Pengajar Universitas Paramadina)

Dalam kosmologi Islam dikenal ada dua sayap kehidupan yang menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur.

Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu maka dengan tersendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan.

Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan, seperti seseorang mendapatkan rezeki melimpah, jabatan penting, dan kesehatan prima.

Sayap sabar dan sayap syukur sama-sama bisa mengorbitkan seseorang mendekati Tuhan tetapi pada umumnya hentakan sayap sabar lebih kencang ketimbang sayap syukur.

Sayap sabar seolah-olah memiliki energi skstra yang bisa melejitkan seseorang. Energi ekstra itu tidak lain adalah rasa butuh yang amat sangat terhadap Tuhan (raja’), penyerahan diri secara total kepada Tuhan (tawakkal), dan olah batin yang amat dalam (mujahadah).

Ketiga energi ekstra ini biasanya sulit terwujud di dalam diri orang yang berkecukupan.

Kebahagiaan Semu

Bagaimana mungkin seseorang merasa butuh terhadap Tuhan sementara semua kebutuhan hidup serba berkecukupan?. Bagaimana mungkin seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sementara ia terperangkap di dalam dunia popularitas?.

Bagaimana mungkin melakukan olah batin sementara nuraninya diselimuti kilauan dunia?.

Bagaimana mungkin khusyuk beribadah sementara perutnya kekenyangan?.

Orang yang hidupnya selalu berkecukupan dan enjoy dengan kehidupan seperti itu adalah sah-sah saja.

Akan tetapi jika ia lupa bahwa kehidupan ini adalah sementara lantas lalai mempersiapkan bekal kehidupan akhirat maka pertanda hidup itu tidak berkah baginya.

Mungkin saja orang itu sesungguhnya hidup di dalam kebahagiaan semu, selalu dibayangi oleh suasana batin yang hambar, kering, dan membosankan.

Kiat mengatasi suasana batin yang berada dalam kondisi normal ialah memperkuat semangat raja’ dan mujahadah di dalam diri.

Raja ialah rasa optimisme dan kebesaran jiwa seseorang di dalam menempuh perjalanan hidupnya karena yakin Allah Swt lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih (al-Rahman) lagi Penyayang (al-Rahim) ketimbang Tuhan Maha Keras (al-Syadid) lagi Pendendam (al-Muntaqim). Ia yakin Allah Swt lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pemberi Petunjuk (al-Hadi) ketimbang Tuhan Maha Menyesatkan (al-Mudhil).

Sedangkan mujahadah ialah semangat orang untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan melakukan intensitas kontemplasi dan melakukan berbagai amalan suci lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling indah dan tepat untuk melakukan dua sikap ini.

Orang yang meragukan diri, pesimistik, dan cemas (khauf) di dalam bulan Ramadhan seolah menuduh Tuhan tidak Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pencinta, dan Maha Pengampun.

Seseorang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Rasulullah di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping isterinya Khadijah yang kaya, bangsawan dan serba berkecukupan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ‘uzlah (pemisahan diri) sementara dari suasana hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman.

Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di salahsatu mesjid, apalagi di dalam bulan suci Ramadlan. Di dalam mesjid kita berniat untuk beri’tikaf karena Allah.

Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, shalat, tafakkur dan berzikir. Niatkan bahwa mesjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Khidhir, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.

Kesenangan hidup, apalagi kalau sampai berlebihan, bawaannya sulit mendaki (taraqqi) ke langit.

Sebagai contoh, orang yang berkecukupan sulit sekali berlama-lama khusyuk dalam shalatnya, bukan hanya karena banyaknya godaan dunia yang ada dalam pikirannya, tetapi juga tidak punya tekanan batin atau trigger, semacam roket pendorong yang akan mengangkatnya ke langit. Trigger itu biasanya suasana batin yang betul-betul merasa sangat butuh pertolongan Tuhan. Seperti orang yang merasakan kesulitan yang sesegera mungkin harus mengeluarkan diri dari kesulitan itu.
Itulah sebabnya Rasulullah pernah mengingatkan untuk waspada terhadap doa orang yang teraniaya (madhlum) karena doanya lebih cepat sampai kepada Tuhan.

Mari kita jadikan bulan Ramadhan sebagai roket pendoring menuju orbit langit kemuliaan.

 

Oleh : Fuad Mahbub Siraj (Pengajar Universitas Paramadina)

Ada dua istilah yang digunakan oleh orang Arab dalam menyambut tamu. Istilah yang pertama adalah ahlan wa sahlan. Ahlan artinya keluarga dan sahlan artinya mudah. Ahlan wa sahlan bermakna bahwa dalam menyambut tamu kita sambut dengan mudah bagaikan yang datang itu keluarga dekat.

Istilah kedua yang digunakan oleh orang Arab dalam menyambut tamu adalah marhaban yang berasal dari kata rahbun yang berarti lapang dada dan kegembiraan.. Istilah ini khusus digunakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Marhaban ya Ramadhan bermakna kita sambut tamu dengan penuh lapang dada dan kegembiraan bagaimakan yang datang itu tamu agung dan jika tamu agung yang datang maka seluruh kebutuhannya kita usahakan untuk dipenuhi.

Musafir dan Jendral

Pentingnya bulan Ramadhan sebagai tamu agung dapat kita lihat pada cerita antara seorang Jenderal besar Umayyah dengan seorang musafir.

Suatu ketika sang Jenderal meminta ajudannya untuk mencari seorang musafir untuk diajaknya makan bersama. Ketika sang musafir didapat kemudian di ajak ke rumah sang Jenderal. Saat Jenderal tersebut mengajaknya untuk makan bersama, sang musafir menjawab bahwa dirinya sedang berpuasa dan memohon maaf untuk tidak bisa memenuhi undangan makan bersama sang Jenderal.

Sang Jenderal ini kemudian berkata, “wahai musafir marilah kita makan bersama hari ini, besok saja berpuasa dan makanan ini dibuat oleh juru masak terhebat di negeri ini”.

Sang musafir kemudian menjawab, “Wahai Jenderal apakah engkau bisa menjamin apakah aku bisa hidup hingga esok hari”. Sang musafir itu pun melanjutkan, “makanan yang lezat tidak terletak pada juru masaknya, melainkan terletak pada kesehatan yang diberikan oleh Allah. 

Jika satu gigi saja disakitkan oleh Allah, maka tidak aka nada masakan yang akan terasa lezat meskipun dibuat oleh juru masak terhebat di sebuah negeri”. Mendengar itu maka sang Jenderal pun memahami dan berhenti mengajak musafir tersebut untuk makan bersama. 

Tamu Agung

Bulan Ramadhan sebagai tamu agung tidak akan mengetuk seluruh pintu rumah manusia.

Sang tamu agung ini hanya akan mengetuk pintu orang yang benar-benar berlapang dada dan penuh kegembiraan dalam menyambut tamu agung ini.

Ramadhan juga akan mengetuk pintu rumah orang-orang yang betul-betuk mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan.

Oleh kerana itu, penting untuk kita betul-betul mempersiapkan diri kita dalam menyambut dan melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. 

Keistimewaan Ramadhan

Terdapat banyak kesitimewaan di dalam bulan Ramadhan. Orang yang beribadah di bulan Ramadhan, maka pahalanya dilipat gandakan oleh Allah lebih besar dari ibadah di luar Ramadhan.

Nabi mengatakan bahwa orang yang berzikir di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar dari timbangan langit dan bumi.

Tidur di bulan Ramadhan adalah ibadah, namun bukan tidur dalam makna sedari sahur hingga berbuka diizinkan untuk tidur. Tidur yang ibadah dalam bulan Ramadhan adalah tidur di saat ia letih setelah bekerja seharian.

Allah juga mempersiapkan satu keistimewaan pada 10 terakhir Ramadhan berupa malam Lailatul Qadar.

Pada malam ini Allah memerintahkan para malaikat untuk memilih siapa yang berhak untuk mendapatkan malam lailatul qadar dan ditetapkan takdir yang baik atasnya.

Namun, takdir yang baik yang telah ditetapkan Allah tersebut perlu disesuaikan dengan sunatullah Allah di alam.

Misalnya, Allah telah menetapkan untuknya rezeki yang berlimpah selama setahun ke depan, namun rezeki yang telah ditetapkan tersebut dapat hilang jika tidak diiringi dengan usaha yang maksimal.

Bulan Ramadhan juga disebut sebagai bulan pengampunan dimana Allah akan mengampuni dosa-dosa manusia bagi yang beribadah dengan maksimal selama bulan Ramadhan ini.

Atas dasar itulah kiranya Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa bulan Ramadhan itu ibarat Datuk-nya para bulan dan jika manusia tahu akan begitu banyaknya keistimewaan yang diberikan oleh Allah di bulan Ramadhan, maka mungkin kiranya manusia akan berdoa jika seluruh bulan hendaknya adalah bulan Ramadhan.

Untuk itu marilah kita memaksimalkan bulan tamadhan tahun ini, karena belum tentu kita akan berjumpa dengan Ramadhan tahun depan.

Nabi juga mengatakan, Ramadhan datang dan Ramadhan pergi, namun masih ada dosa seseorang yang berlum diampuni oleh Allah dan semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut.

 

sumber:

https://www.kliksaja.co/read/opini/marhaban-ya-tamu-agung-ramadhan-2/?fbclid=IwAR2M0Ms-b5tugvOLeRcDtcMHLmnsAZTjm1vr3DcKvUkf_0qgwj7V8qMKrnI 

Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Al-Qur’an menyampaikan bahwa di dunia terdapat musibah dan semua musibah terjadi atas izin Allah. Namun, ada orang yang bertanya, bukanlah Allah itu Maha Baik, lalu kenapa Allah mengizinkan adanya musibah?

Ada yang menjawab bahwa terdapat dua Tuhan. Ada Tuhan yang baik dan ada Tuhan yang tidak baik dan jawaban itu tidak memuaskan nalar atau akal kita. Ada juga yang mengatakan bahwa Tuhan sudah bosan, karena manusia selalu durhaka. Ada juga yang mengatakan bahwa apa yang kita lihat tidak baik, hakikatnya itu adalah baik jika dilihat secara keseluruhan.

Banyak pendapat yang disampaikan, tetapi musibah hakikatnya adalah surat cinta Tuhan. Tuhan merindukan hamba-Nya, karena ketika Tuhan mengirimkan undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan, manusia tidak memedulikan undangan Tuhan tersebut untuk naik ke langit.

Maka, Tuhan mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah. Musibah dalam makna ujian keburukan (balaun sayyiah) mampu mengangkat martabat kemanusiaan. Namun, musibah dalam makna ujian kebaikan (balaun hasanah) sulit manusia untuk lulus, sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah.

Kata musibah diulang oleh Allah beberapa kali dalam Al-Qur’an. Kata musibah diambil dari kata ashaba. Musibah dalam bahasa Al-Qur'an adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai bencana. Dalam Al-Qur’an, istilah yang dipakai untuk bencana adalah fitnah. Fitnah dalam Al-Qur’an diartikan sebagai bencana yang muncul akibat ulah manusia dan menimpa orang yang salah dan orang yang tidak bersalah.

Misalnya, sopir bus yang ugal-ugalan, kemudian menyebabkan kecelakaan yang merupakan bencana untuk yang lain. Istilah lain yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah bala. Bala artinya adalah ujian, bukan marahnya Tuhan (dalam bahasa Indonesia) dan bala datangnya dari Allah. Bala pasti dialami oleh manusia dan sumbernya adalah dari Allah. Istilah yang lain lagi adalah azab yang bermakna siksaan yang disesuaikan dengan tindakan seseorang dan selalu menyakitkan, tetapi Allah sering mengurangi walaupun mestinya secara adil harus setimpal.

Terkait ulah manusia, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tidak ada yang terjadi di luar izin Allah. Izin Allah maksudnya adalah adanya sistem dalam semesta (sunatullah). Misalnya, jika kita sedang berkendara membawa sepeda motor dan kemudian terjadi hujan deras, maka sistem yang berlaku adalah untuk tidak memacu kendaraan bermotor dengan cepat, karena jika tidak demikian maka kita akan terjatuh. Mahasiswa untuk bisa lulus ujian, mesti belajar. Api pastilah bersifat panas dan es pasti bersifat dingin dan semua itu adalah sistem yang berlaku pada semesta dan jika ingin selamat manusia mesti mengikuti sistem tersebut.

Allah adalah rabbil alamin, pemelihara alam semesta. Dalam pemeliharaan alam terkadang ada yang tidak baik bagi perspektif yang lain. Misalnya, meletusnya gunung berapi dan lain sebagainya yang menimpa orang yang berdosa dan tidak berdosa. Jadi, perlu untuk ditempatkan sesuatu pada tempatnya, apakah itu musibah, bala, atau itu adalah fitnah?

Penderitaan adalah salah satu ujian kenaikan kelas. Tanpa ujian, biasanya tidak ada kenaikan kelas. Namun, masih banyak manusia yang tidak memahami bahwa musibah dan penderitaan adalah ujian kenaikan kelas. Di balik setiap musibah dan penderitaan selalu ada rahasia Tuhan yang sulit ditebak. Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan, bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, jika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan, tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.

Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan, hanyalah masalah psikologis. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil. Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. Nikmati penderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan.

Dalam kosmologi Islam dikenal ada dua sayap kehidupan yang menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur. Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan, seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu, maka dengan sendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan. Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan.

*Staf Pengajar Universitas Paramadina Jakarta

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/636099/surat-cinta-dari-allah?fbclid=IwAR087X0IOTAYT0TtYF-0SH5-j487tS6eK_SAYfTXCW5np2ksbo6X7Nd2U94 

Oleh: M Subhi-Ibrahim*

Dalam puasa, manusia menghindarkan diri dari MMS (makan, minum, seks), berbagai hiburan dan segala yang memanjakan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Menariknya, manusia berpuasa sebagai sesuatu “yang disengaja” dilakukan secara “merdeka". Karena itu, rukun pertama puasa adalah niat. “Aku niat berpuasa,” begitu kalimat yang diucapkan menjelang puasa. Tindakan menyengaja berpuasa ini khas manusia.

Sebetulnya, manusia mempunyai naluri mempertahankan diri. Naluri mempertahankan diri “melekat” pada diri manusia, bukan sekadar “menumpang”. Karenanya, naluri ini bersifat kodrati. Kecenderungan untuk makan dan minum adalah salah satu unsur penting naluri mempertahankan diri. Pada dasarnya, naluri makan dan minum merupakan naluri untuk “menyatukan diri” dengan barang-barang jasmani untuk mempertahankan diri.

Kecenderungan naluriah tersebut membuat manusia selalu “bersama dengan” barang-barang jasmani. Dengan berpuasa, manusia memutus hubungan dalam waktu-waktu tertentu. Memutuskan total adalah mustahil. Hanya waktu-waktu tertentu saja! Itulah pengambilan jarak. Manusia membuat jarak terhadap alam jasmani, terhadap makan dan minum. Bahkan, manusia membuat jarak terhadap kejasmaniaannya sendiri. Betul bahwa setiap orang mengalami nalurinya, kecenderungan kodratinya, tetapi dia mampu membedakan atau seakan-akan memisahkan dirinya, pribadinya dari kecenderungannya itu.

Dalam gejala manusia berpuasa tampak bahwa dirinya tidak ditentukan oleh alam jasmaninya. Kejasmaniaan, sebagai unsur kodrati, tidak mampu memaksa. Di sini manusia tampil sebagai subjek yang otonom terhadap alam jasmani dan terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk jasmani. Dengan berpuasa, manusia sadar akan dirinya, kepribadiannya, dan kemerdekaannya.

Seperti telah dikemukakan di atas, puasa merupakan pengambil-jarakkan, transendensi bukan hanya dari tubuh, tetapi juga dari jiwa. Kebutuhan dasar tubuh (makan, minum, seks) bukan dimatikan, tetapi ditunda pemenuhannya. Proses penundaan ini seharusnya memproduksi kesadaran: aku bukan tubuh ini. Aku tak identik dengan tubuh. Buktinya, aku bisa berjarak dengan tubuhku sedemikian rupa. Aku secara sadar melaparkan diri, menghauskan diri. Aku tidak secara total terdeterminasi oleh tubuh. Tubuh hanya salah satu faktor dalam cara mengadaku di dunia ini.

Nah, bukan hanya tubuh yang diambil-jaraki, jiwa juga. Kita mengenal jiwa melalui gejala-gejalanya yang lahir dari daya-daya jiwa yang, diwakili oleh daya berpikir. Dalam puasa, kita mengambil jarak dari gejala berpikir. Dalam keseharian, kita begitu dikontrol, dikendalikan oleh pikiran kita. Saking tenggelamnya kita dalam lapis kedua eksistensi manusia ini, kita beranggapan: aku adalah pikiran. Kita diombang-ambingkan oleh pikiran yang menyeret kita ke masa lalu, ke masa depan, ditekan oleh target-target, rencana-rencana yang sesungguhnya diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Kita pun terhuyung-huyung, mudah stres, bahkan depresi. Penyebabnya, bukan sesuatu yang di luar diri kita, tetapi karena kita tak mampu mengendalikan pikiran kita sendiri.

Pikiran adalah anak kandung jiwa yang kemudian menjajah jiwa, diri kita. Puasa tak mengajarkan anti-pikiran, tetapi melampaui pikiran. Pikiran penting untuk menata kesemerawutan informasi yang hadir di hadapan kesadaran, memetakan persoalan hidup, dan seterusnya. Namun, hati-hati, pikiran juga bisa jadi penjajah diri kita.

Dengan puasa, kita ditarik, mengambil jarak dari pikiran kita. Merasakan hening sejenak dan perhatikan apa yang hadir dalam pikiran kita. Sekali lagi, apa yang berseliweran dalam pikiran kita: ide, bayangan dan sebagainya. Apakah semua yang hadir itu telah tunduk pada titah Ilahi. Atau masih liar, usil, tak terkendali, bahkan mengendalikan kita?

Pikiran itulah yang memprovikasi kita dengan segala bentuk keinginan-keinginan. Buang! Buang saja! Lampaui pikiran. Aku bukan pikiran. Pikiran (jiwa) hanya salah satu elemen pembentuk cara mengadaku. Apabila kita telah melampaui ketubuhan dan kejiwaan, maka kita akan memasuki satu keadaan: hening. Puasa melahirkan keheningan. Dalam keheningan lahir kejernihan. Saat itulah, kita menatap diri sendiri dengan jernih, dan sekaligus menyadari secara penuh siapakah aku ini sebenarnya. Kesadaran diri, itulah titik penentuan perjalanan hidup seseorang.

Wallahualam bissawab.

*Ketua Program Studi Islam Madani Universitasa Paramadina Jakarta

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/nasional/760021/berpuasa-dan-kesadaran-diri 

Oleh: M Subhi-Ibrahim*

Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu. (HR Ibnu Majah no. 4181)

Dalam keseharian, kita kerap berucap,”Saya malu.” Ungkapan tersebut bukan sekadar ucapan tanpa isi (makna). Ungkapan tersebut terkait dengan eksistensi kita, keberadaan kita, cara mengada kita. Uniknya, malu bukan terletak hanya pada muka saja, atau pada salah satu bagian tubuh kita. Seluruh diri, jiwa dan raga. Kita merasakan malu. Diri kita malu.

Lalu apa itu malu? Malu (al-haya’) diartikan sebagai momen dukacita yang terjadi pada jiwa karena takut dicela. Dalam Nashaih al-Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani membagi malu menjadi dua. Pertama, malu nafsani, malu yang berasal dari kodrat kita sebagai manusia.

Kodrat apakah yang dimaksud? Ada dua kodrat dalam konteks malu jenis ini. Pertama, malu sesuai dengan kodrat manusia, yakni ketidakmampuan untuk mengungkap keseluruhan diri. Dalam relasi dengan orang lain, seseorang memiliki kecenderungan untuk menutupi sebagian dari dirinya. Menjadi manusia berarti setengah terbuka, setengah tertutup.

Sedekat apa pun kita dengan seseorang, selalu tersisa sisi misteri dari orang tersebut. Ada semacam privasi yang harus dijaga. Jika privasi tersebut dibongkar, seseorang akan merasa kehilangan keamanaan dirinya, merasa haknya diperkosa, dan merasa malu. Contohnya, kita merasa malu telanjang di depan umum.

Kedua, malu sebagai konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial (social being). Dalam konteks sosial, malu terkait erat dengan kehormatan. Secara naluriah, tiap orang, individu, menghargai dirinya. Seseorang pasti melihat dirinya sebagai sesuatu yang berharga, bernilai, dan mulia.

Anggapan pribadi tersebut mendapatkan konfirmasi dari lingkungan sosial, masyarakat, dalam bentuk status sosial. Jadi, kehormatan adalah penghargaan diri yang diakui dan diterima oleh masyarakat.

Malu sendiri merupakan perasaan yang menyertai kehormatan itu. Orang yang punya rasa malu adalah orang yang sensitif terhadap reputasi sosialnya. Orang yang tidak punya rasa malu adalah mereka yang tidak peduli dan tidak menghargai ikatan sosial, dalam bentuk status sosialnya itu. Orang tersebut akan kehilangan status sosialnya, dan dipandang negatif, nista. Karena itu, buah dari rasa malu adalah menjaga kehormatan (’iffah). Shalih ibn Abd al-Qudus menggubah sebuah puisi:

Apabila sedikit air muka
Maka sedikit rasa malunya
Tidak baik muka yang sedikit air
Maka peliharalah rasa malumu
Karena yang menunjukkan perbuatan orang mulia ialah rasa malunya

Nah, erosi rasa malu dalam masyarakat modern, yang kita alami saat ini, disebabkan pertama, manusia modern memiliki kecenderungan untuk membuka apa yang tidak pernah bisa dibuka; menelanjangi yang tak dapat ditelanjangi; manusia modern tidak suka dengan misteri. Semuanya harus transparan, bisa dijelaskan. Karena itu, dilakukanlah demitologisasi misteri.

Kemudian, kedua, manusia modern memiliki kecenderungan untuk menjadi individu yang total otonom, tak tergantung pada yang lain. Kesosialan diabaikan demi otonomi, padahal kodrat kesosialan itulah yang menyebabkan individu memiliki rasa malu.

Untuk merehabilitasi rasa malu yang luntur dari masyarakat modern saat ini, kita perlu mengembalikan manusia pada dua kodrat asalinya, yakni manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan menutup dan membuka diri serta manusia sebagai makhluk sosial.

Setelah yang pertama, malu sesuai dengan kodrat manusia, kedua adalah malu imani, yakni rasa malu yang dipicu oleh iman. Memang, Rasulullah SAW secara eksplisit mengaitkan malu dengan iman. Dalam beberapa hadis Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut.

Iman terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu adalah salah satu dari bagian-bagian iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Malu dan iman itu bergandengan bersama, apabila salah satunya diangkat, maka yang lain pun akan terangkat. (HR Al Hakim)

Mengapa malu dikaitkan dengan iman? Minimal ada dua alasan. Pertama, pada dasarnya, iman adalah tanggapan hati kita akan kehadiran Allah. Tanggapan hati akan kehadiran Allah tersebut adalah buah makrifah (pengenalan bukan sekadar tahu) kita atas-Nya.

Kita mengenal Allah. Lalu, apa isi pengenalan kita tentang Allah? Kita mengenal bahwa: Allah itu ada, Allah adalah pencipta, dan Allah selalu hadir pada tiap inci hidup kita. Allah adalah asal wujud kita. Kita tidak mungkin ada tanpa-Nya. Nikmat wujud adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan-Nya. Namun, untuk itu semua, apakah kita telah mampu mengabdi kepada-Nya dengan sepenuh hati?

Kita malu untuk menjawabnya, bukan? Karena itu, al-Junaid berkata: perasaan malu adalah kondisi jiwa yang timbul dari kesadaran akan adanya nikmat dan akan adanya kekurangan pengabdian. Kita malu karena kita berlaku buruk di hadapan sang pemberi nikmat.

Nah, di sinilah urgensi malu! Malu menjadi tembok psikis agar kita tidak melakukan pelanggaran di hadapan kehadiran-Nya. Malu adalah rem perilaku. Malu mencegah kita dari perbuatan nista dan hina. Karena itu, jika kita tidak memiliki rasa malu, maka kita akan seenaknya dalam bertindak.

Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali ditemui manusia adalah jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR Bukhari)

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW pernah berkata pada al-Asyad al-‘Asyri, seperti dikutip oleh Ibn Abbas,"Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua hal yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan rasa malu.” (Musnad Ahmad)

Tingkat tertinggi rasa malu adalah malu kepada Allah. Bagaimana penjelasan Rasulullah SAW tentang rasa malu kepada Allah tersebut? Dari Ibn Mas’ud, ia berkata: Rasulullah bersabda,”Milikilah rasa malu pada Allah dengan sebenar-benarnya! Kami, para sahabat, berkata ’wahai Rasulullah, alhamdulillah, kami telah memiliki rasa malu’. Rasulullah berkata ’bukan sekadar itu'. Barang siapa yang malu kepada Allah yang sesungguhnya hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya. Hendaknya ia menjaga perutnya dan apa yang di dalamnya. Hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barang siapa yang mengerjakan itu semua, berarti ia malu kepada Allah dengan sesungguhnya.” (Musnad Ahmad)

Sebagai penutup, saya kutipkan sebuah hadis Qudis yang dikutip oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaih al-Ibad-nya. Hadis ini diturunkan kepada sebagian para nabi. Bunyinya,"Barang siapa menemui Aku dengan senang kepada-Ku, maka Aku masukkan ke dalam surga-Ku. Barang siapa menemui Aku dengan rasa takut kepada-Ku, maka Aku elakkan dari neraka-Ku. Barang siapa menemui Aku dengan rasa malu kepada-Ku, maka Aku buat malaikat lupa menghitung dosa orang itu."
Wa Allah a’lam bi al-shawab.

*Dosen Universitas Paramadina Jakarta

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/633815/rehabilitasi-rasa-malu 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed