fbpx

Berdamai dengan Corona

Print

 

Aan Rukmana*

Siapa pun yang ingin naik kelas dalam hidup ini, Allah selalu mengujinya dalam berbagai bentuk ujian. Ada yang diberikan ujian dalam bentuk kekayaan, popularitas, jabatan, dan kepandaian. Ada juga yang diuji dalam bentuk penyakit, penderitaan, dan kesengsaraan.

Bagi seseorang yang beriman kepada Allah, tidak ada sedikit pun peristiwa yang terjadi di atas muka bumi ini tanpa mengandung hikmah serta pesan moral di belakangnya. Di dalam tradisi Islam, kita mengenal Nabi Sulaiman yang dikenal sebagai nabi yang kaya raya. Meski beliau hidup dalam kekayaan yang melimpah, akan tetapi tidak pernah sedikit pun Nabi Sulaiman keluar dari rasa syukur kepada Allah. Tanpa izin Allah tidak mungkin ia mendapatkan kekayaan yang banyak itu.

Sama halnya dengan Nabi Ayyub yang dikenal sebagai nabi yang paling banyak mendapatkan penderitaan hidup karena penyakit yang dideritanya. Konon dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi Ayyub menderita penyakit cacar yang berlangsung sangat lama. Ada yang mengatakan selama tiga tahun, tujuh tahun, dan bahkan 18 tahun. Akan tetapi derita yang dialaminya tidak pernah sedikit pun menjadikannya berkecil hati atau mengingkari rasa syukur kepada Allah Swt. Justru sebaliknya, setiap sakit yang dirasakannya semakin memperkuat dirinya dan memperkokoh keimanannya.

Ibadah puasa kali ini, kita sedang mengalami suatu pandemik penyakit yang sama. Penyakit yang disebabkan oleh virus corona tersebut menimpa hampir seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di perkotaan maupun di perdesaan, baik yang berasal dari negara-negara kaya raya sampai negara yang masih terbelakang. Baik yang percaya Allah maupun yang mengingkari-Nya.

Rasa yang diberikan virus tersebut sama, yaitu kekhawatiran, kecemasan, serta rasa takut yang tiada berujung. Semuanya dibuat kalut dan kehilangan orientasi hidup. Corona sudah menjelma menjadi sosok yang menakutkan yang setiap saat menghantui derap langkah kaki manusia. Benarkah kita harus setakut itu menghadapi corona? Bagaimana Islam menyikapinya?

Sebagaimana diajarkan oleh Nabi Ayyub, bahwa manusia sudah seharusnya bijak melihat penyakit, apa pun itu jenisnya. Manusia harus mulai berdamai dengan penyakit supaya penyakit itu meski ada, tetapi tidak akan dirasakan sakit dan tidak menjadikan kita sakit. Tentu sikap batin seperti ini bukanlah sikap pelarian karena tidak mampu mengalahkan penyakit, akan tetapi sikap yang tepat sebagaimana Allah ajarkan kepada manusia. Apa pun yang terjadi di atas muka bumi ini, termasuk mewabahnya corona, tidak pernah lepas dari izin-Nya. Jika Allah memberikan izin atas sesuatu, tidak ada seorang pun yang mampu untuk melawannya. Sama halnya jika Allah tidak memberikan izin, maka tidak ada seorang pun yang mampu mewujudkannya.

Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa manusia diturunkan di atas muka bumi dengan misi mewujudkan kehidupan yang baik sesuai dengan perintah Allah Swt. Untuk mereformasi bumi ini, manusia dilengkapi Allah ilmu pengetahuan yang dengannya manusia mampu menundukkan bumi (taskhîr) untuk diolah dengan cara sebaik mungkin demi kemaslahatan kehidupan manusia serta bumi itu sendiri.

Allah pun mengecam manusia yang liar serta memiliki semangat eksploitatif dan destruktif atas bumi yang berujung kepada usaha menghancurkan keberadaan bumi itu sendiri. Dalam pengertian ini, ada suatu opitmisme atas hidup manusia di muka bumi ini bahwa apa pun yang ada di dalamnya dapat manusia tundukkan dengan ilmu pengetahuan dan akhlak yang mulia (integritas).

Persoalan manusia menghadapi virus dengan berbagai variannya, bukanlah hal baru. Sejak awal kemunculan manusia di atas muka bumi ini telah banyak pengalaman hidup yang dilewati manusia. Berkat tangan-tangan manusia yang memandang hidup positif dan optimistis inilah ras manusia masih dapat terus bertahan hingga saat ini.

Maka, di saat kita menghadapi corona seperti sekarang ini, bukanlah sikap yang tepat jika kita terus-menerus mengeluh dan pesimistis. Inilah saat yang tepat untuk kita menumbuhkan nilai-nilai luhur manusia, seperti membantu yang lain, saling mendukung satu dengan lainnya, memastikan para tetangga tidak kelaparan, mendorong perkembangan penelitian ilmiah untuk menghasilkan vaksin yang tepat, dan yang terpenting di atas itu semua kita harus bersabar dengan apa yang sudah Allah gariskan.

Sambil menunggu vaksin ditemukan, kita harus tmenjaga suasana batin agar terus dapat bersyukur dan bertawakal atas-Nya.

Semoga di hari raya Idulfitri yang sebentar lagi menghampiri kita, Allah memberikan kemenangan kepada kita semua karena telah lulus puasa dan juga lulus dari berbagai ketakutan yang lahir karena corona. Allahu akbar, Allahu akbar!

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/635993/berdamai-dengan-corona 

Joomla SEF URLs by Artio