b-fa.jpg
Profil Program Studi Falsafah dan Agama Program Studi
ku_fa.jpg
Kurikulum dan Metode Perkuliahan Kurikulum disusun dengan
tim-fa.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: A.Luthfi

Seminar "Etos Kerja Pasar dan Masjid"

  • PDF

Etos Kerja dan Masjid: Persekutuan antara Agama dan Ekonomi

 

Oleh: Ach. Fadil

Perbincangan masalah agama dan etos kerja serta hubungan antar keduanya selalu menjadi perbicaraan yang sangat menarik. Apakah benar ada pengaruh agama dalam membangkitkan etos kerja dalam memperbaiki kehidupan perekonomian suatu masyarakat atau tidak, atau sama sekali terpisah dan taka da sangkut-pautnya?

Pihak tertentu berpendapat bahwa kemajuan dalam bidang ekonomi ditandai dengan bangkitnya etos kerja dalam diri masyarakat tidak ada sangkut-pautnya dengan prihal keagamaan (religiusitas). Di lain pihak, pandangan tersebut dianggap tidak sepenuhnya benar. Bagi pihak ini religiuisitas—tentu bukan arti harfiah, tetapi secara simbolis yang bermakna agama—mempunyai pengaruh yang kuat terhadap bangkitnya etos kerja di suatu masyarakat. Sehingga mereka bisa memperbaiki kondisi perekonomian yang melilit mereka.

Oleh karena itu, untuk mengkaji lebih lanjut, maka Rabu (04/12/13), Program Studi Falsafah dan Agama, Universitas Paramadina mengadakan launching buku sekaligus diskusi yang bertempat di Aula Nurcolish Majid, dengan tema: “Etos Kerja, Pasar dan Masjid: Transformasi Sosial-Kegamaan dalam Mobilitas Ekonomi Kemasyarakatan”. Tema tersebut diambil dari judul buku karya Moh. Lutfi Malik (alm)—yang sedang didiskusikan pada saat itu—dengan menghadirkan tiga pembicara diantaranya: Dr. Laode Ida, Prof. Abdul Hadi WM, dan Fachry Ali, MA, dan dimoderatori oleh Lukman Hakim. Turut Hadir juga pada waktu itu tokoh-tokoh intelektual seperti Prof. Dawam Raharjo, Prof. Dr. Taufiq Abdullah, dan lain-lain beserta keluarga besar dari almarhum yang menulis buku tersebut.

Acara tersebut terselenggara berkat kerjasama dengan penerbit Lembaga Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Acara yang dimulai pada pukul 09.30 tersebut dibuka dengan sambutan-sambutan pihak rektorat Universitas Paramadina yang diwakili oleh Totok Amien Sofiyanto, dan dilanjutkan sambutan dari pihak penerbit, Abdullah Syarwani.

Buku Etos Kerja, Pasar dan Masjid tersebut merupakan hasil penelitian dari Moh. Lutfi Hakim yang berlokasi di daerah Lakudo, Kabupaten Buton, di Provinsi Sulawesi Tenggara. Buku tersebut mengangkat tema besar etos kerja (ekonomi) berbasis kegamaan dengan inspirasi dari dua pemikir besar: Marx Weber dari sisi Protestan yang diambil dari bukunya “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” dan Ibnu Khaldun dari sisi Islam.

Tesis yang dikemukakan oleh Lutfi Hakim dalam buku tersebut kurang-lebih seperti ini: religiusitas berperan cukup massif dalam membangkitkan etos kerja. Adalah Dr. Laode Ida yang berpandangan sedikit berbeda dengan tesis tersebut. Menurutnya realitas sesunguuhnya yang terjadi di Lakudo tidak hanya semata-mata soal agama yang berpengaruh pada etos kerja. Tetapi kalau melihat secara cermat, justru kondisi geografis lah yang mempengaruhi etos kerja di daerah tersebut. Karena bagi dia, kondisi geografis yang tidak subur, tanah bebatuan, dan yang sejenisnya seperti terihat di daerah tersebut menuntut penduduk setempat mendorong mereka untuk mempunyai etos kerja yang kuat. Karena mereka dituntut untuk bisa bertahan (survive). “Di situlah survival of the fittest bermain” paparnya. “Sehingga mereka bekerja tidak hanya di lingkungan itu saja, melainkan sampai ke luar lingkungan itu. Tidak penting apa kerjanya, yang terpenting bagi mereka halal dan mereka bisa survive” lanjutnya.

Walaupun demikian, Laode mengapresiasi dengan terbitnya buku tersebut, dan menekankan bahwa seharusnya kearifan lokal yang berbasis keagamaan seperti ditulis di buku tersebut diangkat di dalam kajian sosiologi-ekonomi dan dijadikan model pembangunan ke depan. “Sehingga masyarakat bisa lebih maju secara ekonomi dengan mandiri. Karena kadangkala masyarakat miskin dan susah tidak mendapat perhatian dari pemerintah” timpalnya.

Sementara Abdul Hadi WM, dalam paparannya ia mengkritik buku tersebut. Pertama-tama ia memulai dengan pertanyaan: “Bagaimana agama bisa mempengaruhi etos kerja? Bagaimana tesis-tesis semacam itu bisa dibuktikan di lapangan?” ungkapnya. Karena bagi dia, fakta di lapangan dengan menilik sejarah masuk dan berkembangnya Islam di nusantara justru dipengaruhi oleh pelayaran-pelayaran yang dilakukan oleh masyarakat nusantara sendiri ke berbagai negara lain seperti India, Persia, London dan lain-lain. “Jadi, menurut sejarah sebetulnya yang menyebarkan Islam pertama kali di nusantara bukan orang-orang Arab itu, tapi masyarakat nusantara yang sebelumnya telah melakukan pelayaran ke negara-negara tersebut, lalu kembali ke nusantara dan menyebarkan Islam di nusantara ini” paparnya.

Kritik yang dipaparkan oleh Abdul Hadi ini betolak-belakang dengan apa yang ditulis oleh Lutfi Hakim dalam buku tersebut. Artinya bagi Abdul Hadi, pengaruh agama terhadap etos kerja sulit dibuktikan di lapangan, dan malah sebaliknya. Bukan agama yang mempengaruhi etos kerja, melainkan etos kerjalah yang mempengaruhi perkembangan agama. “Di Asia ada dua agama misionaris: Islam dan Buddha. Keduanya bisa berkembang karena etos kerja dan etos dagang. Sementara Katolik banyak disebarkan dengan sistem kolonialisme” timpalnya lagi.

Abdul Hadi menambahkan dan memperkuat pendapatnya tersebut dengan mengatakan bahwa pada zaman dahulu, masyarakat nusantara yang berdagang itu sambil lalu menyebarkan agama Islam. Sehingga yang diperoleh bukan hanya laba material, tetapi laba ukhrawi.

Selain mengkritik buku tersebut, dia juga memujinya. “Buku tersebut bagus, namun perlu lagi dielaborasi. Islam yang bagaimana yang benar-benar mempengaruhi etos kerja? Atau paling tidak, dia perlu menjelaskan bagaimana fungsi masjid atau mushalla (baca: Langgar—Jawa) yang bisa mempengaruhi etos kerja?” Sebab bagi dia, kalau melihat fungsi masjid di masa kejayaan Islam, bagi dia ada tiga pusat peradaban: istana, pasar dan masjid. Masjid bagi dia bukan hanya masjid sebagai tempat shalat, dzikir dan yang semacamnya. Tetapi masjid benar-benar menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan. Di masjid itulah banyak orang belajar sastra, budaya, politik, ekonomi dan lain-lain. Baginya fungsi masjid tidak sesempit sekarang. “Jadi, masjid bukan hanya tempat pengajian fiqih-tayammum saja” paparnya (sontak audiens tertawa).

Pun juga pembicara yang terakhir, Dr. Fachry Ali. Ia juga mengkritik makna masjid dan pasar yang dipaparkan oleh Lutfi Hakim dalam buku tersebut yang dimaknai secara denotatif. Seperti halnya Laode dan Abdul Hadi, dia juga memknai masjid dan pasar secara konotatif (bukan makna sebenarnya). Pendapat Fachry Ali juga diamini oleh Prof. Dawam Raharjo. Bagi dia, masjid dan pasar tidak bermakna fisik an sich, tetapi lembaga. Dia juga mengkritik pendapat yang mengatakan bahwa masjid sekarang sudah mengalami penyempitan makna (seperti yang dipaparkan Abdul Hadi di muka), yaitu hanya sebatas tempat pengajian dan tempat shalat saja. Bagi Dawam tidak, dan tidak semua masjid di nusantara seperti itu. Karena bagi dia fungsi masjid tergantung dari yang menjalankan atau yang menggerakkannya. “Ada beberapa masjid yang dijadikan wahana pendidikan. Jadi tidak hanya fiqih saja, tapi ada kegiatan ekonomi juga” paparnya.

Di akhir paparannya, ia menyimpulkan bedah buku dan diskusi tersebut, bahwa ada gejala-gejala persekutuan antara masjid (agama) dan pasar (ekonomi), dan seharusnya hal itu dijadikan sebagai kekuatan civil society.Sekian.

 

Last Updated on Thursday, 10 April 2014 15:11

Seminar "Wajah Iran Dalam Bingkai Penulis Indonesia

  • PDF

p { margin-bottom: 0.08in; }

 

IRAN DI MATA PARA INTELEKTUAL INDONESIA

Oleh. Ach. Fadil

Akhir-akhir ini, kebanyakan publik Indonesia melihat Iran dari sisi ke-syi’ah-annya. Sehingga stigma negatif pun dimunculkan di ruang publik yang mayoritas menganut aliran Sunni atau ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah. Padahal kalau mau melihat secara cermat, membaca Iran tidak hanya soal Syi’ah, tapi banyak sekali yang harus dilihat dan dieksplorasi, dan mestinya harus dicontoh oleh publik nusantara ini, seperti kemajuan mereka dalam bidang sains, filsafat, sastra, dan lain sebagainya. Adanya stigma negatif yang melihat Iran hanya dari sisi kesyi’ahannya, menunjukkan kesempitan cara pandang publik kita.

Nah, untuk menjembatani kesenjangan itu, Rabu (12/03/14) prodi Falsafah dan Agama (FA) bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Falsafah dan Agama (HIMAFA) Universitas Paramadina mengadakan seminar nasional dengan tema "Wajah Iran dalam Bingkai Penulis Indonesia" yang bertempat di Auditorium Nurcholish Majid.

Acara yang dimulai pada pukul 10.15 WIB ini, diawali dengan sambutan dari beberapa pihak, diantaranya dari pihak rektorat Universitas Paramadina yang diwakili oleh Totok Amien Sofiyanto; dilanjutkan dengan sambutan Kedubes Iran untuk Indonesia oleh Mahmoud Farazandeh; dan sambutan terakhir dari Konselor Budaya Kedubes Iran oleh Dr. Hujjatollah Ebrahimian.

Dalam sambutannya, Farazandeh menyampaikan pentingnya dialog antar Indonesia-Iran, terlebih ia menegaskan bahwa dialog antar Indonesia-Iran sudah berlangsung sejak lama, "sejak dahulu sudah ada apresiasi dari publik Indonesia mengenai pentingnya belajar bahasa Persia" tegasnya. Adalah Prof. Dr. Abdul Hadi WM yang ia sebut sebagai salah satu tokoh sastrawan dan budayawan Indonesia yang yang banyak bersentuhan dengan tradisi Iran (Persia secara umum), kita tahu beliau (Abdul Hadi) telah berhasil menerjamahkan salah satu karya sastra Persia “Matsnawi”—judul lengkapnya al-Matsnawi al-Maknawi—sebuah buku berupa antologi puisi karya sastrawan dan sufi fenomenal asal Persia, Maulana Jalaluddin Rumi.

Sementara itu Ebrahimian mengungkapkan, bahwa tujuan diselenggarakannya seminar nasional tersebut adalah bentuk apresiasi dai Iran untuk para intelektual yang ahli tentang ke-Iran-an. "Seminar ini merupakan salah satu bentuk apresiasi dari kami untuk para penulis Indonesia yang kompeten dan concern menulis tentang ke-Iran-an (Iranologi).

Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara ahli yang memang concern dalam bidang ke-iraniologi. Beberapa diantara mereka banyak menulis buku tentang revolusi Iran, sastra Persia, dan lain-lain. Sebut saja pembicara yang hadir seperti Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Dr. Husein Hariyanto, Dina Y. Sulaeman, Miftah Fauzi Rahmat, MA, M. Subhi Ibrahim, MA, Syafiq Basri Assegaff, dan penanggap A. Rifai Hasan, Ph. D.

Beberapa karya mereka bisa disebutkan seperti Matsnawi (karya terjemahan Abdul Hadi WM) yang jga telah disebut di muka, Ali Syariati: Sang Ideolog Revolusi Islam (Subhi Ibrahim), Revolusi Saintifik Iran dan Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam (Husein Hariyanto), A Note from Tehran, Doktor Cilik: Hafal dan Paham al-Qur’an, dan Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik (Dina Y. Sulaeman), serta masih banyak karya-karya para penulis lain yang hadir pada seminar tersebut.

Adalah budayawan dan sastrawan Abdul Hadi WM yang mula-mula memulai paparannya dengan mengatakan bahwa ketertarikannya terhadap Iran salah satu diantaranya disebabkan kesenangan publik Iran yang suka sekali mematrikan masa lalu, masa kini dan masa depan menjadi satu-kesatuan yang utuh. “Mereka tidak melupakan masa lalu (karya-karya pendahulu mereka), dan juga mereka mengapresiasi masa kini (karya kontemporer) untuk kepentingan masa depan” tegasnya. Lalu ia mengkritik kebiasaan publik Indonesia yang akhir-khir ini mulai melupakan masa lalu dan hanya menyukai karya-karya kontemporer saja. “Di sana, orang-orang gemar membaca buku, tidak hanya komik seperti yang biasa publik Indonesia baca, tapi juga buku-buku filsafat, karya ilmiah, sains, dan sastra. Ini yang tidak di temukan di Indonesia” timpalnya.

Apa yang dipaparkan oleh Abdul Hadi juga diamini oleh salah satu pembicara lainnya, Husein Hariyanto. Menurutnya Iran yang merupakan kawasan Persia, adalah negara yang dalam sangat maju dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan. “Kita tahu Persia banyak melahirkan intelektual-intelektual yang karyanya banyak dikonsumsi oleh publik Indonesia, sebut saja tokoh sekaliber al-Khawarizmi (matematikawan dan filsuf), Abu Rayhan al-Biruni (fisikawan dan filsuf), al-Ghazali (filsuf dan sufi). Bisa kita catat di sini beberapa karya yang mereka hasilkan adalah al-Jabar wal-Muqabalah, Ihya Ulumiddin, dan lain-lain” paparnya.

Husein juga mengkalim bahwa tujuan ia menulis beberapa buku mengenai Iran dan revolusi saintifiknya hanya ingin membanggun dan mengembangkan nalar saintifik Indonesia. “Kalaupun dalam buku saya—Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam—banyak ditemukan tokoh-tokoh intelektual dari Iran, itu memang faktanya” tegas dosen ICAS tersebut.

Lalu kemudian Husein melalui analisanya dengan memberi dua catatan tentang Iran: pertama, perkembangan sains yang sangat pesat di Iran telah mematahkan sekularisme yang mencoba memisahkan antara sains dari agama. “Sebelum revolusi 1979 yang menggulingkan rezim Syah Iran, Iran belum terlihat seperti sekarang, ia masih terbilang terbelakang. Tapi dalam kurun waktu 30 tahun, perkembangan sains pesat sekali, bahkan mengalahkan negara-negara besar. Ini fakta yang perlu dicatat. Sekularisasi dipatahkan dengan kenyataan ini. Agama dan sains terintegrasi menjadi satu-kesatuan yang utuh” kelakarnya. Kedua, perkembangan sains sejalan dengan perkembangan ilmu-ilmu agama, seperti filsafat, ilmu kalam, dan lain-lain.

Dua pembicara lain yang berbicara mengenai revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatollah Imam Khomeini adalah Syafiq Basri Assegaff dan Subhi Ibrahim. Menurut Syafiq, salah satu yang menggerakkan publik Iran melakukan revolusi Islam pada waktu itu disebabkan Imam Khomeini mengirimkan kaset-kaset seruan revolusi kepada publiknya yang dia kirim dari Prancis. Sudut pandang lain digambarkan oleh Subhi Ibrahim, bahwa menurutnya memang Imam Khomeini lah yang menjadi pimpinan revolusi pada waktu itu. Tapi salah satu ideolog yang berada di belakangnya adalah Ali Syariati (ideolog semi-sekuler) dan Murtadha Mutahhari (ideolog agama). “Panorama intelektual Ali syariati dan Murtadha Mutahhari yang melatarbekalangi revolusi Islam Iran terbesar ke empat di dunia, mengalahkan revolusi Prancis, Amerika, dan China” ungkapnya.

Sementara Miftah Fauzi Rahmat yang datang terlambat sekilas memberi gambaran yang khas mengenai Iran. Baginya, yang khas dari Iran adalah ada dua hal: kecintaan publik Iran kepada para syuhada’ (orang yang mati syahid) dan kecintaan mereka pada ulama. “Ini yang tidak ditemukan di negara-negara lain” paparnya. Mengenai kecintaan orang-orang Iran pada syuhada ini, Miftah lalu mengutip salah satu kutipan revolusioner dari Murtadha Mutahhari: “Bangsa yang rusak sama dengan orang yang sakit parah. Dua-duanya membutuhkan transfusi darah—darah yang dimaksud adalah kesyahidan.”

Kalau beberapa pembicara memberikan pandangan dalam bidang revolusi, sains, dan sastra, adalah Dina Y. Sulaeman yang memberikan pandangan lain, ia memberikan pandangan bagaimana kedudukan perempuan di negeri para mullah tersebut. Penulis buku A Note from Tehran dan juga orang yang tinggal cukup lama di Iran ini memberi gambaran perempuan seperti ini, di Iran budaya patriarki bisa dibilang tidak ada. Kedudukan perempuan setara dengan laki-laki. Kasus yang dicontohkan olehnya adalah kasus mengenai ketentuan mahar ketika perempuan hendak kawin. “Di Iran, perempuan kalau mau menikah menentuka mahar yang sangat tinggi. Ini berbeda dengan Indonesia yang pada umumnya hanya cukup dengan seperangkat alat shalat. Karena bagi perempuan Iran, mahar yang tinggi itu sebagai jaminan. Jaminan dalam arti bahwa kalau laki-lakinya macam-macam, mau menceraikan misalnya, ia terlebih dahulu harus melunasi mahar perkawinan mereka dulu. Kalau tidak ia dipenjarakan. Ini yang tertuang dalam konstitusi Iran” paparnya. Perempuan menurutnya juga menduduki posisi yang sangat penting dalam sistem politik Iran. “Ini terbukti misalnya, perempuan itu beberapa kali disebut dalam Undang-undang Dasar Republik Iran” tambahnya.

Nah, melihat kemunduran Indonesia dalam berbagai bidang, harusnya Indonesia banyak mencontoh Iran, baik dalam revolusi saintifiknya, filsafat, sastra, dan bidang ilmu pengetahuan yang lain. Beberapa paparan yang disampaikan oleh para pembicara, hal itu menunjukkan bahwa Iran tidak hanya soal Syi’ah, tapi lebih dari itu ada peradaban yang sangat besar yang perlu dicontoh oleh negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim seperti Indonesia. ***

M. Subhi-Ibrahim, M. Hum

  • PDF

 

Nama: M. Subhi-Ibrahim, M. Hum

Program Studi : Falsafah dan Agama

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Interest : Sosial-Keagamaan; tasawuf perkotaan (urban sufism); sejarah pemikiran (Filsafat) Islam dan Barat

Research

  • Peran dan Pengaruh Fatwa MUI di Indonesia (2009)
  • Integritas dalam Islam: Konsep dan Penerapannya (Studi Kasus Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdhadul Ulama/ LAZISNU dan LAZIS Muhammadiyyah/ LAZISMU di Indonesia) (2010)

Publications

Buku

  • ”Ali Shariati Sang Ideolog Revolusi Islam”, Jakarta: Dian Rakyat, 2012. ISBN: 978-979-078-430-7
  • ”Al-Farabi Sang Perintis Logika Islam”, Jakarta: Dian Rakyat, 2012. ISBN: 978-979-078-429-1
  • "30 Untaian Hikmah Ramadhan: Berantas Kemiskinan dan Kelaparan," Jakarta: Tim Koordinasi Kampanye Bangkit Indonesia dan PP. Pemuda Muhammadiyah, 2006 (co-author)
  • “Bayang-Bayang Fanatisme: Esai-Esai untuk Mengenang Nurcholish Madjid”, Jakarta: PSIK Universitas Paramadina, 2007. (co-author)
  • “Doa Anak Kecil”, Jakarta: Penerbit Republika, 2007. ISBN: 9789793210-5 (co-author)
  • ”Negara Kesejahteraan dan Globalisasi: Pengembangan Kebijakan dan Perbandingan Pengalaman,” Jakarta: PSIK Universitas Paramadina, 2008. ISBN: 978-979-16870-2-7 (co-author)
  • ”Korupsi Mengorupsi Indonesia: Sebab, Akibat, dan Prospek Pemberantasan”, Jakarta: Gramedia, 2009. ISBN: 978-979-22-5134-0 (co-author)
  • ”Mengenal Islam Jalan Tengah: Buku Daras Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi”, Jakarta: Dian Rakyat, 2012. ISBN: 978-979-078-414-7. (co-author)

Editor

Tim A’lam al-Hidayah, Teladan Abadi Imam Husain, Terj. Abdullah Beik, Jakarta: al-Huda, 2007. ISBN: 978-979-1193-10-8

Jurnal

  • "Basis Onto-Teologis Pengembangan Ekonomi Islam", Akses: Jurnal Ekonomi, Akuntansi dan Manajemen FE UHAMKA, Vol.6, No. 1, Mei 2004. ISSN: 1410-7325
  • "Bank Shariah: Sebuah Sketsa Tatanan Ekonomi Tauhid-I", Akses: Jurnal ekonomi, Akuntasi dan manajemen FE UHAMKA, vol. 7 no.1, Mei 2005. ISSN: 1410-7325
  • “Praktek Wefare State dalam Islam,” Akses: Jurnal Ekonomi, Akuntansi, dan Manajemen FE UHAMKA, Vol. 8. NO. 2 November 2006. ISSN: 1410-7325
  • “Epistemologi Sosio-Ekonomik dalam Dialektika Sosiologi Ali Shari’ati, Akses: Jurnal Ekonomi, Akuntansi, dan Manajemen FE UHAMKA, Vol. 9 NO. 1, Mei 2007. ISSN: 1410-7325
  • “Polaritas Masyarakat dalam Pemikiran Ali Syariati dan Imam Khomeini”, Al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam, Vol.V, Nomor 13, 2007. ISSN: 1441-1944
  • “Politik Syiah: Antara Quetisme dan Mahdiisme”, Mumtaz: Jurnal Studi al-Quran dan Keislaman, Vol. 02 No.1 th. 2011 , Program Pascasarjana PTIQ Jakarta, ISSN:2087-8125

Majalah

  • “Ateisme dan Pengajaran Filsafat,”ta’dib, Edisi:17/Th.IV/Juni 2006. ISSN: 1693-4997
  • “Maulid Nabi: Lahirnya Pembela Perempuan,” Syi’ar, Edisi Rabiul Awal 1428 H/April 2007 M
  • ”Haji mambur dan Nilai Keuniversalitasannya”, Figur: Menilai Karena Ketauladanan, Edisi LV, November 2010

Koran

  • "Dosa Sosial", Republika, 17 Desember 2005
  • "Tebasan Pedang Waktu",  Republika, 26 Desember 2005
  • "Bom Palu dan Mitos Terorisme", Republika, 3 Januari 2006
  • "Insya Allah", Republika, 4 Januari 2006
  • "Alam Tak Bisa Disalahkan", Radar Banten, 7 Januari 2006
  • "Sinetron Religius dan Teologi Islam", Radar Banten, 17 Januari 2006
  • "Hidup Zuhud," Republika, 15 Februari 2006
  • "Kualitas Umur,"Republika, 16 Maret 2006
  • "Menghadirkan Allah," Republika, 1 Mei 2006
  • "Palestina dan Media Massa Zionis," Republika, 9 Mei 2006
  • "Akhir Sejarah dan Khomeinisme," Radar Banten, 16 Mei 2006
  • "Soeharto, Homo Orbaicus, dan Modal Sosial", Radar Banten, 30 Mei 2006
  • "Islam dan Mitos Terorisme", Radar Banten, 16 Juni 2006
  • "Baasyir dan Blunder Pemerintah", Republika, 19 Juni 2006
  • “Palestina dan Trinitarianisme Global,” Republika, 7 Juli 2006
  • “Menggeser Paradigma Gerakan Keagamaan,” Radar Banten, 10 Juli 2006
  • “Memahami “Kegilaan” Israel,” Radar Banten, 19 Juli 2006
  • “Tafsir Penundaan Eksekusi Tibo dkk,” Republika, 15 Agustus 2006
  • "Pedang Hukum dalam Kasus Tibo dkk," Radar Banten, 6 September 2006
  • "Jus In Bello Perang Melawan Terorisme," Republika, 13 September 2006
  • "Membaca Narasi 11 September,"Radar Banten, 13 September 2006
  • "Habibie, Prabowo, dan Kritisisme Historis," Republika, 2 Oktober 2006
  • "Syahwat Kekuasaan dan Cara Halal Jadi Gubernur," Radar Banten, 9 Oktober 2006
  • "Fungsi Kemiskinan dan Kampanye Stop Pemiskinan," Radar Banten, 18 Oktober 2006
  • “Alarm Peradaban dalam Kasus Poso,” Republika, 1 November 2006
  • “Kekerasan, Alarm Peradaban,” Radar Banten, 3 November 2006
  • "Tafsir Kritis Kunjungan Bush, Radar Banten, 15 November 2006
  • "Berhala Diri," Republika, 24 November 2006
  • "Poligami dan Keadilan Psikologis," Radar Banten, 9 Desember 2006
  • "Poligami Bukan Ajaran Dasar Islam," Koran Tempo, 9 Desember 2006
  • "Demitologi Holocaust,"Koran Sindo, 14 Desember 2006
  • “Memperluas Lingkaran Solidaritas,” Radar Banten, 6 Januari 2007
  • “Hijrah dan Masyarakat Beradab,” Radar Banten, 19 Januari 2007
  • “Konflik Sektarian dan Hegemoni Politik AS, Radar Banten, 27 Januari 2007
  • “Solusi Semu Konflik Timteng,” Koran Sindo, 3 Februari 2007
  • “Banjir, Dosa Sosial, dan Taubat Nasional,” Radar Banten, 12 Februari 2007
  • “Menggagas Asketisme Politik,” Radar Banten, 20 Februari 2007
  • “Iman dan Optimisme,” Republika, 12 Maret 2007
  • “Laptop dan Kemuakkan Kolektif, Radar Banten, 2 April 2007
  • “Memutus Tradisi Kekerasan IPDN,” Radar Banten, 14 April 2007
  • “ Reaktualisasi Emansipasi Wanita,” Radar Banten, 20 April 2007
  • “Reaktualisasi Emansipasi Wanita,” Radar Banten, 21 April 2007
  • “Rendah Hati,” Republika, 22 Mei 2007
  • “ Aletheia Amien Rais, Radar Banten, 28 Mei 2007
  • “Salman Rusydie dan Blunder Ratu Elizabeth II”, Radar Banten, 25 Juni 2007
  • “Keadilan Untuk Aliran Sesat,” Radar Banten, 1 November 2007
  • “Menyelami Altruisme Pahlawan,” Radar Banten, 12 November 2007
  • “Demokrasi H2C,”Radar Banten, 21 November 2007
  • “Demokrasi H2C,” Koran Sindo, November 2007
  • “Ecocide dan Nestapa Manusia Modern,”Radar Banten, 13 Desember 2007
  • “Menangkal Kesesatan,”Republika, 13 Desember 2007
  • “Hijrah, Kebebasan Beragama,  dan Rumah Budaya,”Radar Banten, 9 Januari 2008
  • “Agama dan Wacana Keadilan,” Sindo, 18 Januari 2008
  • “Mengopa Doa Tertolak?” Republika, 24 Januari 2008
  • “Sulitnya Mendefinisikan Pak Harto,” Radar Banten, 30 Januari 2008
  • ”Islam, Sains, dan Angka Arab,” Radar Banten, 21 Februari 2008
  • ”Agen Sejarah Islamisasi,” Radar Banten, 25 Februari 2008
  • ”Memahami Kembali Nabi Muhammad”, Radar Banten, 26 November 2008
  • ”Nabi Muhammad di Mata Muslim dan Barat”, Republika, 3 Desember 2008
  • ”Bangga Diri”, Republika, 7 Januari 2009
Buletin
  • "Mazhab Gerak: Sebuah Refleksi-Alternatif", Buletin Ekspresi, no.4 Oktober, 1999.
  • "Muhammad-kan Kami: Refleksi atas Maulid al-Musthafa", Buletin al-Huda, Edisi 164, tahun 2005.
  • "Meng-insan-kan Diri", Buletin al-Huda, Edisi 172, Tahun 2005
  • ”Meng-ibrahim-kan Diri”, Buletin al-Shahifah, Edisi jumat  19 Desember  2008
  • ”Tahun Baru dan Krisis Global Peradaban Kontemporer”, Buletin al-Shahifah, Edisi Jumat, 7 Januari 2011

 

Last Updated on Tuesday, 17 July 2012 14:40

Mahdiisme Hembuskan Optimisme Bangsa

  • PDF

Mahdiisme Hembuskan Optimisme Bangsa

Jakarta, Pelita
Pemberitaan jelek tentang kondisi bangsa dan negara di media massa sangat kuat sejak beberapa tahun terakhir, seperti masalah korupsi, pengelolaan negara buruk, mafia pajak, rekening gendut kepolisiaan dan sejumlah kasus lainnya membuat masyarakat pesimis melihat kondisi sekarang ini. Meski demikian, masayarakat jangan terjebak pada pesimisme karena di masa depan pasti ada kebaikan.


Hal itu dikatakan Ketua Jurusan Falsafah dan Agama universitas Paramadina M. Subhi Ibrahim dalam seminar internasional dengan tema, “Mahdiisme, Keindonesiaan dan Persatuan Bangsa,” di Auditorium universitas Paramadina, Senin (09/07)

Salah satu tujuan seminar internasional ini, menurut Subhi selaku Ketua Jurusan Falsafah dan Agama, untuk memberi semangat optimisme tentang masa depan yang lebih baik. Ada harapan besar kondisi masyarakat dan bangsa akan lebih baik ke depan. “Pemberiataan media cederung pesimis. Kita berusaha mencari konsep dalam Islam untuk menebar optimisme. Masa depan kita sebenarnya baik,” kata Subhi kepada Pelita selesai seminar.

Konsep Mahdiisme dikenal dalam berbagai agama, tidak hanya dalam tradisi Islam. Akan ada ratu adil, imam Mahdi dan konsep sejenis untuk memperbaiki keadaan yang sudah terpuruk guna menyelamatkan masyarakat dan bangsa. “Konsep ini tidak hanya dikenal dalam Islam, tapi juga dalam agama lain,” ucapnya

Bagi Subhi, juru selamat itu harus direkayasa melalui upaya, karya, dan karsa untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Masing-masing orang harus menjadi duta kebaikan. Juru keselamatan dan kebaikan akan datang jika sistem dan infrastruktur sudah dibuat. “Juru selamat itu bersifat aktif dengan melakukan upaya, karya dan karsa untuk memperbaiki masyarakat. Imam Mahdi atau ratu adil tidak akan datang klo tidak ada infrastruktur yang dibuat,” ucapnya

Hal serupa juga diungkapkan cendikiawan muslim Haidar Bagir. Bagi Haidar, Mahdiisme lebih merupakan konsep tentang kebaikan yang bisa diupayakan secara kreatif oleh setiap orang guna mewujudkan tatanan sosial yang lebih baik. “Mahdiisme itu adalah konsep tentang kebaikan,” tegasnya

Acara tersebut terselenggara hasil kerja sama antara Jurusan Falsafah dan Agama universitas Paramadina dengan Ahlul Bait Indonesia (ABI). Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh perwakilan dari Iran dan beberapa negara lain. (cr-15)



Dikutip dari: http://www.pelitaonline.com/read-cetak/24909/mahdiisme-hembuskan-optimisme-bangsa/

 

Gegar Identitas dan Menjadi Sarjana Muslim

  • PDF

Gegar Identitas dan menjadi Sarjana Muslim

Seorang intelektual muslimpun bisa galau ketika ilmu pengetahuan dan identitas agama bertemu. Mereka sangat menguasai wilayahnya, profesinya, nomenklaturnya, tapi tergagap ketika harus menyandingkan dengan Islam. Dipikirnya Ilmiah tidak Islam dan Islam tidak Ilmiah. Maka terjadilah kebingungan identitas antara menjadi muslim sekaligus ilmuan. Hal ini lah apa yang disebut sebagai "Bending the Scientific. Bending the Islam.  A Trouble Identity". Menjadi seorang  muslim akan terpecah identitasnya ketika bersanding identitasnya sebagai ilmuan.  Bagaimana sebenarnya pertemuan antara Islam dan ilmu pengetahuan itu sendiri?

Program Studi Falsafah dan Agama mencoba mendiskusikan berbagai uraian diatas dengan tema : "Gegar Identitas dan Menjadi Sarjana Muslim, pembicara : Dewi Candraningrum, Ph.D (Ahli Antropologi Budaya) dan Fuad Mahbub Siraj, Ph.D (Ahli pemikir Islam) pada tanggal : 7 Maret 2012, pukul : 15.00-17.30, Ruang B1-1 Universitas Paramadina.

Diskusi ini ,merupakan refleksi atas terbitnya buku yaitu : Narrative of Sustainable Development :Industriew Meeting Socio-Ecological Responsibilities and Integrating Islam and Knowledge : Social Science and Technology.

 

Contemporary Challenges for Islamic and Western Philosophies

  • PDF

Contemporary Challenges for Islamic and Western Philosophies

Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina bekerjasama dengan kedutaan Iran dan ISIP (International Society for Islamic Philosophy) menyelenggarakan Round Table Discussion dengan tema : "Contemporary Challenges for Islamic and Western Philosophies", pembicara : Prof. Dr. Gholamreza Aavani (Presiden ISIP), waktu : Jum'at, 9 Maret 2012, pukul : 13.30-17.30,  Ruang : Granada, Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto Kav.97 Mampang Jakarta-Selatan.

Mentalitas rasional, kultural ilmiah dan etos keilmuan para sarjana muslim secara menyeluruh dan memadukan sains dan filsafat dalam konteks peradaban Islam, bermuara pada optimisme akan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa depan yang searah dan kongruen dengan paradigma dan pandangan dunia Islam.   Ditengah kecemasan sejumlah saintis kontemporer terhadap masa depan sains yang mereka anggap tidak lagi menyisakan celah eksploratif bagi kemunculan temuan dan terobosan saintifik yang besar seperti kerisauan seorang Richard Dawkins terhadap keberakhiran kisah biologi evolusioner.

Last Updated on Tuesday, 03 April 2012 09:15

Page 1 of 6