Krisis Ekonomi, Puasa, dan Covid-19

Oleh: Herdi Sahrasad*

Bangsa Indonesia dan dunia internasional menghadapi pandemi corona (Covid 19) yang mengerikan sebelum datangnya bulan suci Ramadan ini. Pada awal Ramadan saja, ribuan korban jiwa di pelbagai belahan dunia berjatuhan seperti daun kering rontok dari pepohonan. Padahal, awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan (magfirah), sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka (itqun minan nâr).

Adapun hadis yang menjelaskan tentang keistimewaan Ramadan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya: siapa yang menghidupkan bulan Ramadan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan siapa yang menghidupkan (beribadah) malam lailatulqadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.

Yang memprihatinkan kita di bulan suci Ramadan ini, meluasnya dampak corona atas kondisi ekonomi yang sudah memburuk sebelum datangnya pandemi itu. Laporan Kadin Indonesia menyebutkan kondisi ekonomi yang berlangsung di tengah pandemi corona sangat berbeda dengan krisis ekonomi 1998. Pada 1998 sektor UMKM (usaha menengah, kecil, dan mikro) masih bisa bertahan. Namun, kali ini semua sektor usaha UMKM mengalami dampak yang sama tanpa pandang bulu.

Berdasarkan data yang ada di tangan pengusaha Suryani Motik (wakil ketua umum Kadin Indonesia), jumlah UMKM sebanyak 61 juta terpuruk dihantam corona. Jika asumsi satu UMKM terdiri dari 2 orang, jumlah korban terdampak sudah mencapai 122 juta orang. Di tengah pandemi corona ini, ketahanan UMKM tidak lama. Ada yang bertahan dalam hitungan minggu atau hanya dalam hitungan hari.

Begitu juga di industri perhotelan. Saat ini data mencatat sekitar 2-3 juta orang terkena PHK. Itu pun baru data perkiraan dan dari satu sektor. Jika digabungkan dengan berbagai sektor, dia meyakini jumlah pengangguran baru bisa mencapai 30 juta orang. Sementara itu, sekitar 2,1 juta karyawan industri furnitur juga terpaksa dirumahkan. Belum lagi jutaan sektor informal yang gulung tikar akibat pandemi corona itu.

Jika merujuk pada data APBN 2020, belum ada anggaran khusus untuk pemberdayaan sektor informal. Saat Covid-19 muncul, beberapa stimulus pemerintah untuk sektor informal lebih kepada pemberian bantuan langsung tunai (BLT).

Semua masalah ekonomi tersebut butuh solusi, jalan keluar. Stimulus ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 jelas tidak cukup hanya untuk sektor-sektor formal, sebab kita juga perlu fokus pada sektor informal. Bahkan, harus lebih berpihak pada sektor informal. Alasan utamanya karena ketiadaan penyangga kehidupan pelaku sektor informal, sementara sektor formal relatif lebih kuat terhadap sengatan Covid-19, karena secara tidak langsung ditopang oleh swasta dan pemerintah.(Abdul Manap Pulungan, peneliti Center Macroeconomics and Finance, Indef, 2020)

Harus ditekankan bahwa meski kontribusi ekonomi sektor informal lebih rendah dibandingkan sektor formal, tetapi mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Dari sisi perpajakan, sektor informal tidak berkontribusi sama sekali. Pada ukuran yang lebih luas, peranan sektor informal terhadap produk domestik bruto (PDB) belum dapat menyajikan angka pasti. Asian Development Bank (ADB) dan Badan Pusat Statistik (2010) menghitung peranan sektor informal terhadap PDB lewat kontribusi usaha mikro, mengingat sebagian besar pelaku usaha tersebut merupakan pekerja di sektor informal.

Abdul Manap Pulungan mencatat sektor informal sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, kita tidak bisa terlepas dari peranannya. Setiap hari kita berinteraksi dengan pedagang asongan untuk membeli camilan, air minum kemasan, maupun jenis makanan ringan lainnya. Mereka biasanya mangkal di stasiun kereta api, terminal, maupun pusat-pusat keramaian lainnya.

Berbagai laporan menunjukkan pada 2018, porsi usaha mikro mencapai 38 persen terhadap PDB. Jika usaha kecil dikalkulasi, maka porsinya mencapai 47 persen terhadap PDB. Jumlah unit usaha mikro pada 2018 mencapai 63 juta (98 persen dari total unit usaha UMKM). Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor informal di Indonesia menyerap 70,49 juta, sedangkan tenaga kerja formal mencapai 56,02 juta. Porsi masing-masing terhadap total tenaga kerja Indonesia adalah 55,72 persen dan 44,28 persen.

Pandemi corona ini sudah berlangsung selama kurang lebih 2,5 bulan, sehingga diperkirakan dunia usaha dari sektor formal sampai informal hanya bisa bertahan selama 1-2 bulan lagi. Tentu dampak sosialnya mengerikan karena jutaan orang di sektor informal dan formal (UMKM) tidak lagi punya penghasilan.

Di tengah kemelut ini, pemerintah dan masyarakat (civil society) harus bekerja sama mengatasi masalah dengan dialog dan saling tukar gagasan untuk memecahkan kompleksitas masalah ini. Misalnya, bagaimana agar bantuan dana dari pemerintah sampai ke rakyat yang membutuhkan, terutama rakyat kecil yang lemah dan menderita.

Pertolongan negara harus diutamakan bagi rakyat kecil yang makin lemah dan tak berdaya hadapi corona. Kalangan taipan dan pengusaha mapan juga harus membantu rakyat kecil mengatasi bencana corona ini secara pantas dan memadai agar kehadiran mereka dirasakan rakyat.

Inilah saatnya bahu-membahu antara negara, dunia usaha, dan masyarakat madani, dalam mengatasi pandemi corona sehingga bulan suci Ramadan ini tidak terjadi gejolak, kelaparan atau sejenisnya, sehingga kedamaian dan kekhusyukan puasa tetap terjaga. Semoga.

*Dosen Universitas Paramadina

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadan/632163/krisis-ekonomi-puasa-dan-covid19 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed